TUGAS 4 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE III) oleh dosen pengampun Prof. Dr. Marsigit, MA

 

Nama                            : Nur Fitriani

NIM                              : 20309251004

Kelas                            : S2 Pmat intake 2021

Mata Kuliah                : Filsafat Ilmu

 

Wadah VS Isi dalam Objek Berfilsafat”

Filsafat adalah suatu ilmu yang mencari atau mempelajari tentang semua hal yang ada dan mungkin ada. Maksud yang ada disini adalah hal yang sudah ada dalam pikiran seseorang, yang pernah dipikirkan ataupun yang sedang dipikirkan. Sedangkan yang mungkin ada itu adalah hal yang belum ada (bukan tidak ada) dalam pikiran seseorang, hal ini disebabkan karena seseorang belum pernah mendengar atau belum pernah diberitahui ataupun belum pernah memikirkan tentang hal yang “mungkin ada” tersebut. Contohnya, sebelum kita memasuki usia masuk sekolah, ada banyak dari kita yang belum kenal, belum diperkenalkan, belum diperdengarkan, dan tidak pernah terfikirkan bahwa ada suatu disiplin ilmu yang disebut dengan “ilmu matematika”, maka saat itu kedudukan ilmu matematika tersebut masih berada diluar pikiran seseorang dan itulah yang disebut dengan hal yang “mungkin ada”. Sedangkan setelah masuk sekolah, salah satu mata pelajaran yang diperkenalkan dan diajarkan kesiswa adalah matematika, maka setelah diperkenalkan dan diajarkan, disaat itulah kedudukan ilmu matematika sudah berubah, sudah masuk kedalam pikiran seseorang, dan itulah yang disebut dengan hal yang “ada”. Maka dari penjelasan tersebut, kita bisa berfikir dan berpendapat bahwa, semua hal didunia ini itu “ada”, hanya saja ada beberapa diantarany, kita belum mengenalnya, belum pernah mendengarnya, atau belum pernah memikirkan dan mempelajarinya, dan hal yang ada tersebut tak hingga banyaknya, meliputi segala sesuatu yang ada dilangit dan yang ada dibumi, baik yang konkrit maupun yang absrak, yang berubah ataupun yang bersifat tetap. Itulah sebabnya, semakin kita belajar maka kita semakin merasa bodoh. Karena disaat kita mengetahui hal yang baru dari proses berfikir dan belajar tersebut kita akan berkata “oh iya ternyata ada yang seperti ini”, dan akan terus begitu seterusnya. Sedangkan yang tidak tertarik untuk belajar atau malas untuk berfikir, dia tidak akan pernah tau ada banyak hal yang belum dia ketahui, dan dengan pengetahuan yang ada dia akan merasa pintar, karena merasa sudah mengetahui semuanya. Padahal tentu tidak.

Objek dalam berfilsafat disebut dengan objek epistimologi yaitu sesuatu yang memiliki struktur yang ideal, dan dalam epistimologi terbagi menjadi dua yaitu objek formal dan objek material. Objek formal disebut dengan wadah (wadah sekaligus isi) dan objek material disebut dengan isi (isi sekaligus wadah). Semua objek dalam berfilsafat itu akan berhermenetika yaitu akan menembus ruang dan waktu.

Alat yang digunakan dalam berfilsafat adalah bahasa analog. Bahasa analog ini bahasa yang lebih tinggi dari sekedar bahasa kiasan. Contohnya ketika seseorang mengatakan “hatiku adalah spiritualku”, kalimat tersebut mengandung makna bahwa hati itu tempatnya akhirat karena didalam hatilah kita berdoa, sedangkan pikiran itu tempatnya dunia. Maka, hati adalah wadah dan akhirat adalah isi. Tubuh adalah wadah dan hati adalah isi. Pikiran adalah wadah dan dunia adalah isi. Raga adalah wadah dan pikiran adalah isi. Itulah alasannya kenapa dikatakan wadah sekaligus isi da nisi sekaligus wadah. Tidak bermakna ketika wadah tanpa isi, dan juga tidak akan bermakna isi tanpa wadah. Wadah juga disebut dengan takdir dan isi disebut dengan ikhtiar.

Dalam berfilsafat juga menggunakan metode, yaitu metode intensi dan metode ekstensi. Berikut bagan dari metode berfilsafat:



Metode Filsafat

intensi

ekstensi

Meninggikan

Mendalami

Memperluas

Mempersempit

 Intensi adalah meninggikan dan mendalami dan Ekstensi adalah memperluas dan mempersempit. Ketika kita berfilsafat, kita akan langsung melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan. Dalam waktu yang bersamaan kita sedang meninggikan sekaligus mendalami sesuatu atau kita sedang memperluas dan mempersempit sesuatu. Contoh, ada banyak pilihan kegiatan yang disodorkan dihadapan kita dalam waktu yang bersamaan. Misalnya belajar atau tidur. Saat kita memilih utk belajar, maka saat itu kita sedang mendalami ilmu dan sedang meninggikan dimensi diri kita. Atau saat kita dihadapkan dengan pilihan kuliah atau pergi nongkrong bersama teman, saat kita memilih untuk berkuliah maka disaat itu kita sedang memperluas wawasan dan mempersempit pergaulan.

Berfilsafat ini harus mengikuti hari pikiran para filsuf, tidak bisa dikarang. Dan landasan dalam filsafat adalah filsafat pondasionalisasi yaitu agama dan keyakinan. Filsafat tentang murninya pikiran adalah sintetik apriori, yaitu hubungan antar realita yang terjadi dalam pikiran atau disebut juga hubungan antar persepsi.  Dari filsafat muncullah ideologi (filsafat yang diterapkan), kemudian menjadi paradigma dan berkembang menjadi teori-teori, kemudia teori berkembang menjadi model, setelah model akan menjadi sintak (langkah), dan dari sintak akan menjadi contoh-contoh atau realita ilmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS 7 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE VI) dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, MA

Tugas 2 Filsafat Ilmu Prof. Dr. Marsigit, MA