TUGAS 3A Kuliah Filsafat Ilmu bersama Prof. Dr. Marsigit, MA
TUGAS
3.A
(REFLEKSI VIDEO FILSAFAT BAGIAN 1
BY Prof. Dr. Marsigit, M.A 17 OKT 2019)
Nama : Nur Fitriani
NIM : 20309251004
Kelas : S2 Pmat intake
2021
Mata
Kuliah : Filsafat Ilmu
Ilmu
adalah Perkawinan Antara Langit dan Bumi
Apakah yang dimaksud dengan ilmu? Apakah ilmu itu yang kita fikirkan? Apakah ilmu itu yang kita lihat? Apakah ilmu itu yang kita rasakan? Ataukah ilmu itu mutlak mengenai apapun yang terjadi dalam kehidupan dan diri kita?
Untuk
mendapatkan pemahaman tentang apa itu ilmu, alangkah lebih baiknya kita
mencermati dulu alur dan asal muasal terjadinya perdebatan hebat antara
Descartes dengan Hume mengenai pandangan mereka terhadap hal-hal yang dianggap
merupakan karakteristik dari ilmu.
Berawal dari
kehidupan manusia yang berupa metafisik, yaitu ada sebelum dan ada sesudahnya,
karena tidak sempurnanya manusia menjadi alasan kenapa manusia bisa hidup.
Karena dalam filsafat dikatakan bahwa kita ada karena kita berfikir, jika
manusia tercipta sudah sempurna maka tidak akan adalagi hal yang dipikirkan,
karena tidak berfikir maka dikatakan tidak ada. Bermakna sebaliknya, karena
manusia tidak sempurna, dan terus berfikir untuk berkembang dan memperbaiki
maka manusia bisa ada dan hidup.
Awal dari
eksitensi kehidupan manusia adalah fatal dan vital, yaitu terpilih dan memilih.
Terpilih adalah takdir, dan memilih adalah ikhtiar. Semua yang telah
ditakdirkan itu bersifat idealism sedangkan ikhtiar akan bersifat realism.
Takdir tidak dapat dirubah karena bersifat absolute dan konsisten yang
merupakan kuasa Tuhan atau disebut dengan kausal prima, sedangkan pada ruang
ikhtiar yang terjadi akan bersifat hukum alam. Apa yang kita lakukan itu akan
kembali ke diri kita sendiri, apa yang kita tanam itu pula yang akan kita tuai,
seberapa kuat kita melakukan iktiar, sebesar itu pula hasil yang akan kita
dapatkan.
Saya lebih
senang menyebutnya dengan “Ruang Kerja Tuhan VS Ruang Kerja Manusia” atau bisa
pula disebut dengan Langit dan Bumi. Semua yang masuk dalam ruang kerja Tuhan
akan bersifat A priori sedangkan yang masuk dalam ruang kerja manusia akan
bersifat A posteriori. Misalnya, kita percaya akan adanya tuhan dengan segala
ciptaannya padahal kita belum pernah melihat sang pencipta, begitupun dengan a
posteriori, kita tidak akan pernah bisa melihat hasil sebelum kita melakukan
ikhtiarnya.
Descartes adalah
orang yang meyakini bahwa ilmu itu masuk dalam ruang kerja Tuhan (langit)
dengan semua sifat-sifatnya. Namun, Hume berpendapat bahwa ilmu itu masuk dalam
ruang kerja manusia (bumi) dengan segala sifat-sifatnya. Sehingga Immanual Kant
menjadi juru damai yang mengambil persinggungan antara pendapat Descartes
dengan Hume, yaitu Kant mengatakan bahwa Ilmu itu adalah perkawinan antara
langit dan bumi, dikatakan ilmu apabila bersifat sintetik A priori, yaitu
meyakini sesuatu sebelum tampak dan mampu menghubungkan antar kejadian satu
dengan kejadian lainnya.
Adapula
seseorang yang bernama Compte yang mengatakan bahwa apapun yang diperdebatkan
oleh Descartes dan Hume tidak berguna, karena Compte memiliki sudut pandang yang
lain dalam melihat ilmu dan dunia, yaitu Agama tidak bisa dijadikan landasan
untuk membangun dunia karna agama tidak rasional. Compte banyak mendapat
hujatan dan dikatakan bedebah karena berpendapat seperti itu. Namun, sadarkah
kita, bahwa kita bisa saja ada diposisi yang lebih “bedebah” dari seorang
August Compte. Karena Compte hanya berpendapat bahwa agama bersifat tidak
rasional sehingga tidak dapat dijadikan landasan untuk membangun dunia,
sedangkan kita mungkin sering kali tanpa sadar telah menaruh agama berada
dibagian paling bawah dari semua aktivitas kita, menaruh agama hanya di sisa
waktu dan sisa tenaga yang kita miliki. Naudzubillahiminzalik. Semoga Tuhan
mengampuni segala kealfaan yang ada dalam diri kita.
Komentar
Posting Komentar