TUGAS 3B Kuliah Filsafat Ilmu bersama Prof. Dr. Marsigit, MA

 

TUGAS 3.B

(REFLEKSI VIDEO SEJARAH KONSEP MAT (PADA KUL DAYA MAT))

Nama                            : Nur Fitriani

NIM                              : 20309251004

Kelas                            : S2 Pmat intake 2021

Mata Kuliah                : Filsafat Ilmu

 

Matematika Pikiran VS Matematika Realita

Pada mulanya, matematika belum-lah menjadi apa-apa, belum menjadi sesuatu, dan belum menjadi ilmu. Kenapa bisa demikian? Karena matematika belum difikirkan, belum dibangun, belum disusun. Hingga akhirnya ada beberapa  para pemikir terdahulu yang bernama Plato dan Aristoteles yang memcoba membangun dan memikirkan untuk menjadikan matematika sebagai suatu ilmu.  Aristoteles adalah murid dari Plato, namun dalam membangun matematika, mereke tidak satu aliran. Mereka memiliki pemikiran masing-masing dalam mengartikan matematika.

Yang pertama berangkat dari pemikirannya Plato. Plato mengatakan bahwa  matematika dapat dipelajari dan dipahami tanpa harus melihat langsung “benda nyata” nya, karena matematika bersifat konstan (tidak akan berubah-ubah) yang penting apa yang kita fikirkan terhadap matematika itu bersifat rasional. Contohnya, (i)  2 + 2 = 4, dan (ii) 2 liter cairan A + 2 liter cairan B = 4 Liter cairan. Didalam pikiran kita, kita sudah paham bahwa nilai 2 + 2 hasilnya akan memiliki nilai yaitu 4 tanpa harus mempraktikkan langsung menambahkan 2 jenis cairan berbeda pada 2 wadah yang berbeda dan seakan-akan pasti akan menghasilkan cairan campuran yang bervolume 4 liter.  Hal-hal yang kita pahami dan kita yakini sebelum kita melihat langsung bendanya, inilah yang dinamakan dengan  A PRIORI. Jadi menurut Plato, matematika dapat dipelajari dan dipahami tanpa harus berdasarkan dengan pengalaman yang bersifat konkret.

Pemikiran Plato ini tidak bisa diterima oleh semua orang, karena tidak semua orang memiliki kemampuan berfikir secara A priori seperti plato. Pemikiran Plato mungkin mudah untuk diterima dan diterapkan oleh para matematikawan murni, orang-orang yang berfikir hanya sampai batas pencaharian ilmu matematika, tidak untuk berfikir bagaimana caranya agar matematika yang sudah kita pahami bisa diajarkan dan dipahami pula oleh orang lain. Tapi apa gunanya ilmu ada ilmu matematika jika tidak bisa dipahamkan kepada banyak orang lain? Bukankan  matematika dibangun untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia dan ilmu-ilmu yang lain? Bagaimana bisa  seseorang akan menggunakan matematika dalam hidupnya jika ia belum paham atau susah paham terhadap matematika itu sendiri?

Karena landasan fikir Plato terhadap mempelajari matematika ini tidak dapat diterapkan kepada semua orang, maka muridnya yang bernama Aristoteles memiliki dan mengembangkan paham yang berbeda dengan gurunya mengenai cara mempelajari dan memahami matematika.

Landasan Aristoteles adalah bersifat A POST TERIORI, yaitu paham terhadap sesuatu ketika sudah melihat sesuatu itu. Artinya matematika dapat dipahami ketika kita sudah memiliki pengalaman tertang objek matematika itu sendiri. Pada aliran ini, hal yang dianggap awal dari mempelajari ilmu matematika adalah pengalaman bermatematika dan aliran ini bisa menjadi landasan untuk mengajarkan matematika kepada orang yang masih awam dengan matematika, misalnya kepada anak SD. Sangat sulit bagi anak SD untuk bisa membayangkan  apa yang dimaksud dengan 1, 2, 3,  dan seterusnya, oleh sebab itu untuk membuat anak SD paham apa yang dimaksud dengan 1, 2, 3, dan seterusnya harus bermula dengan suatu kegiatan mengabstraksi. Bisa diawali dengan menunjukkan sebuah benda sebutlah permen dengan masing-masing banyaknya permen adalah 1, 2, 3, dan seterusnya. Kemudian menunjukkan lagi dengan benda yang lain misalnya pensil dan kemudian menunjukkan lagi banyaknya pensil tersebut dengan 1, 2, 3 dan seterusnya, begitu berulang-ulang dengan beberapa jenis benda yang berbeda hingga pada akhirnya tertanam pada memori siswa bahwa 1, 2, 3 dan seterusnya itu merupakan banyaknya benda-benda tersebut. Inilah salah satu contoh pengalaman bermatematika.  Mungkin untuk para matematikawan murni pengalaman seperti ini sangat tidak diperlukan, karena mereka bisa memahami matematika hanya dengan memikirkannya saja dan dianggap rasional, namun tidak dengan anak SD.

Sehingga, dapat kita lihat dari hasil pemikiran Plato dan Aristoteles memilki kelemaham, atau belum sempuran karna belum dapat diterapkan kepada orang lain secara keseluruhan. Kemudian, atas perselisihan tersebutlah, Immanuel  Kant ingin mengambil jalan tengah dari perselisihan tersebut, dengan cara mempelajari unsur-unsur apa saja yang terdapat dalam aliran fikir Platosism dan Aristotelesism dan kemudian memadupadankannya, sehingga bisa saling melengkapi dan diterima oleh seluruh kalangan manusia. Menurut Kant, pada aliran Platosism terdapat dua unsur , yaitu A Priori dan analitik (konsisten dan logis), kemudia pada aliran Aristotelesism juga terdapat dua unsur, yaitu A Posteriori dan sintetik (hubungan antar persepsi atau hubungan antar kejadian), sehingga Kant mengambil masing-masing unsur pada dua aliran tersebut, yaitu ilmu adalah sintetik apriori. Lebih lanjut disebutkan bahwa dikatakan ilmu jika memiliki wadah dan isi. Wadah tanpa isi bukanlah ilmu, isi tanpa wadahpun bukanlah ilmu. Defenisi dalam matematika merupakan wadahnya, contoh adalah isinya.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS 7 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE VI) dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, MA

Tugas 2 Filsafat Ilmu Prof. Dr. Marsigit, MA

TUGAS 4 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE III) oleh dosen pengampun Prof. Dr. Marsigit, MA