TUGAS C (REFLEKSI BUKU THE CRITIQUE OF PURE REASON, IMMANUEL KANT) oleh dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, MA
Nama : Nur Fitriani
NIM : 20309251004
Kelas : S2 Pmat intake
2021
Mata
Kuliah : Filsafat Ilmu
BAB
1
Pendahuluan
Buku
The Critique of Pure Reason merupakan
salah satu wadah yang digunakan oleh Immanuel
Kant untuk menuangkan seluruh ide dan pemikirannya tentang akal budi
manusia. Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1781. Kemudian terbitan
revisinya pada tahun 1787, dan terjemahan dalam bahasa inggris yang ditulis
oleh Norman Kemp Smith terbit pada
tahun 1929. Ada banyak konsep yang dibahas oleh Immanuel Kant dalam buku
ini, yang menjadikan Immanuel Kant menjadi
salah satu filsuf besar sepanjang masa.
Bahasa
yang digunakan Immanuel Kant pada
buku ini dianggap sangat sulit untuk sebagian besar kalangan, namun ada juga
beberapa kalangan yang lain yang menganggap bahwa buku ini benar-benar dapat
memberi penerangan tentang semua hal yang ada.
Buku
The Critique Of Pure Reason dilatar belakangi oleh kehidupan Kant pada masa
itu, dimana Immanuel Kant hidup saat
peperangan pada masa pemerintahan Frederick
. Immanuel Kant berasal dari
keluarga yang sederhana dan keadaan tersebut mengahrusnya ia untuk kerja keras
dan sangat disiplin, agar bisa memperoleh kesuksesan dibidangnya. Immanuel Kant tercatata sebagai
mahasiswa di Universitas Koningsberg sejak tahun 1740. Kemudian Immanuel Kant mendapatkan banyak kesempatan
untuk mengembangkan dirinya saat itu, seperti mendapat kesempatan menjadi
asisten private, asisten dosen, dan berhasil meraih gelar professor ditahun
1770 dan Immanuel Kant meninggal pada
tahun 1804.
Dalam
buku The Critique Of Pure Reason ini,
Immanuel Kant mengkritik beberapa
pandangan para filsuf besar yang berpengaruh di zaman Immanuel Kant seperti gagagsan David
Hume tentang gagasan filsafat empirik, gagagsan Berkeley, dan gagasan dari Locke. Dan tujuan Immanuel Kant dalam menulis buku ini adalah untuk menjadi juru
damai perentangan antara aliran rasionalisme (pengetahuan yang didapat dan
dibenarkan dengan akal budi) dengan aliran empirisme (pengetahuan yang didapat
dan dibenarkan dengan pengalaman atau ditangkap dengan indera manusia).
Pada
Bab awal buku The Critique Of Pure Reason
membahas tentang estetika dan intuisi. Estetika disini diartikan oleh Immanuel Kant sebagai studi dan
pemikiran tentang pedapat/opini/persepsi yang diperoleh dari tangkapan indera
manusia atau dengan kata lain disebut dengan “data mentah” yang dapat dipahami
memalui konseptualitas. Estetika menurut Immanuel
Kant mencakup aspek intuitif (proses
penerimaan “data mentah” atau proses memperoleh pengetahuan dari proses
pengalaman/kejadian yang terjadi tanpa melewati konseptualisasi dan aspek
konseptual (pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman/kejadian yang terjadi
dengan melewati konseptualisasi).
Menurut Immanuel Kant dunia adalah
hasil dari pengorganisasian akal budi manusia.
Akal
budi manusia digunakan dalam pengetahuan untuk mecapai pemahaman terhadap
sesuatu. Dalam buku ini Immanuel Kant berusaha
menyelidiki faktor-faktor penentu yang terlibat dalam proses manusia menjadi
memiliki suatu pengetahuan. Semua hal yang terjadi didunia ini baik didalam
diri maupun diluar diri memliki hubungan kausalitas. Pengetahuan dibedakan
menjadi beberapa, yaitu pengetahuan analitik (sifat yang ada dalam objek
tersebut), sintetik (sifat yang ada diluar objek tersebut), a priori (pemahaman
yang diperoleh sebelum melihat langsung objek tersebut), dan a posteriori
(pemahaman yang diperoleh setelah melihat langsung objek tersebut). Dari sini,
terlihat bahwa pemahaman analitik bersifat a priori (paham menggunakan
rasionalitas) dan pemahaman sintetik bersifat a posteriori (paham menggunakan
pengalaman). Pertanyaan mendasar yang muncul di benak Immanuel Kant yang menjadi dasar tercetusnya buku The Critique Of Pure Reason adalah
apakah ada pemahaman yang bersifat sintetik a priori? Dalam buku ini Immanuel Kant menuangkan pikirannya, ia
menyebutkan bahwa pemahaman yang bersifat sintetik a priori adalah sesuatu yang
membuat segala pengetahuan menjadi mungkin. Dan pernyataan Immanuel Kant ini ditentang
oleh David Hume .
Immanuel Kant juga
menyebutkan tentang fenomena dan noumena. Fenomena menurut Immanuel kant adalah semua yang dapat ditangkap oleh indera manusia
dan dapat dikonsep itu disebut dengan fenomena. Sedangkan noumena adalah semua
yang tidak dapat di tangkap oleh indera manusia, tidak dapat masuk dapam
pikiran manusia, dan berada diluar diri manusia. Oleh karena itu Immanuel Kant mengatakan bahwa kita
tidak akan pernah bisa memasuki dunia noumena. Maka dapat disimpulkan bahwa
dunia kita terbatas hanya sampai pada batas kemampuan kita memahami dan mengkonsepkan
sesuatu.
BAB II
Pengetahuan Transendental
Transenden
disini dimaksudkan oleh Immanuel Kant adalah
segala sesuatu diluar jangkauan pengalaman manusia. Immanuel Kant menggunakan metode deduksi transcendental untuk
menyelidiki tentang bagaimana cara kita bisa mencapai suatu pemahaman.
Dimisalkan ada 2 premis, (1) Hanya jika B maka A (keadaan yang “memungkinkan”
kita untuk memiliki suatu pengalaman, (2) B telah kita alami (keadaan yang
menunjukkan bahwa kita telah mengalami sesuatu), kesimpulannya adalah A
(artinya jika kita pernah mengalami sesuatu atau kita memiliki kemungkinan
untuk dapat mengalami sesuatu maka kita pun akan dapat memiliki kesempatan
untuk memperoleh pengetahuan dari pengalaman tersebut) Pengetahuan
transcendental terletak pada saat konsep diperoleh dari hasil abstraksi dari
suatu pengalaman, yaitu tidak serta merta terjadi atau muncul begitu saja. Disini
Immanuel Kant terlihat sangat pro
dengan pendapat David Hume yang
mengalatakan bahwa pengetahuan hanya bisa diperoleh dari pengalaman, tetapi
tidak berhenti sampai disini. Karena Immanuel
Kant juga seperndapat dengan aliran rasionalisme yang di pelopori salah
satunya oleh Leibniz. Immanuel Kant berusaha
mencetus ide yang dapat menggabungkan gagasan dari dua aliran ini. Karena itu
muncullah istilah baru yang digunakan oleh Immanuel
kant, yaitu sensibiltas yang merupakan sarana yang bersifat reseptif yang
digunakan sebagai alat untuk mendapatkan suatu intuisi yang akan ditransfer
langsung kedalam pikiran manusia. Pemahaman juga merupakan wadah untuk
pembentukan mental agar terciptanya konseptual intuisi yang ditransfer oleh
sensibilitas tersebut. Sensibilitas dan pemahaman disini bisa dikatakan sebagai
wadah dan isi,, sensibilitas sebagai wadahnya dah pemahaman sebagai isinya,
dimana kedua hal tersebut saling melengkapi agar kedua bisa sama-sama memiliki
makna.
Diatas
telah disinggung tentang fenomena, dan fenomena itu melibatkan aspek materi dan
forma. Tidak bisa hanya salah satunya. Ini yang biasa disebut dengan semua hal
bisa menembus ruang dan waktu. Karena suatu “objek” bisa menjadi objek yang
bersifat materi dan ada juga objek yang bersifat forma (struktur untuk memandangs
sesuatu).
Ruang
dan waktu adalah 1 paket. Tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa hanya salah
satunya. Karena suatu “objek” akan selalu berdimensi ruang dan waktu, ruang dan
waktu ini bersifat empiris yang kita gunakan untuk mendalami/memahami tentang
segala sesuatu yang ada didunia dan bisa terlepas dari pengalaman. Ruang dan
waktu inilah yang dibutuhkan oleh seseorang untuk bisa mendapatkan suatu
pengalaman, ruang yang dimaksud disini sangat luas, tidak terbatas dan nanti
akan berkembang menjadi suatu ilmu khusus bangun ruang yang disebut geometri
yang menurutkan Immanuel Kant ilmu
geometri ini bersifat a priori sintetik, sekaligus membantah semua pemikiran
yang menyebutkan bahwa matematika yang berpusat pada logika saja.
BAB III
LOGIKA KANTIAN
Yang
menjadi tempat atau wadah tumbuhnya benih untuk manusia dapat berfikir tentang
intuisi dan mengabstraksi suatu pengalaman manjadi konsep adalah pemahaman maka
pemahaman ini bersifat sangat esensial. Dan ilmu tentang pemahaman itu sendiri
disebut dengan logika dimana logika ini dapat dikelompokkan menjadi 3 macam,
yaitu logika umum (studi tentang pemahaman umum), logika khusus (studi tentang
pemahaman mengenai ilmu tertentu), dan logika transcendental (studi tantang
pemahaman kepada hal-hal yang terlepas dari pengalaman dan bersifat murni atau
natural) yang meliputi ontology, aksiologi, dan epistimologi. Untuk mengupas
atan menganasis atau memahami sesuatu, Immanuel
Kant mengatakan bahwa untuk membedah tuntas semua unsur penyusun nalar
manusia dan pemahaman manusia diperlukan analitik. I
Menurut
Immanuel Kant dalam kasus penalaran
murni, yang disebut dengan kebenaran itu adalah yang sesuai dengan ruang dan
waktu. Maka penting sekali untuk kita paham akan semesta pembicaraan. Dalam
memahami “sesuatu”, akan banyak sekali ragam opini/defenisi/pendapat dari berbagai
pemikir, maka untuk menyatukan ragam pendapat tersebut harus di tentukan suatu
konsep yang dapat mengcover semua pendapat itu, yang hal ini akan dilakukan
oleh pemahaman. Inilahh yang disebut dengan sintesis representasi (menganalisis
ragam pendapat pemikir terhadap objek yang sedang di bahas). Berdasarkan hal
tersebut diperlukan adanya penilaian khusus pada “objek semesta pembicaraa”
untuk penengah pengetahuan. Kemampuan pikiran kita dalam menerima konsep
terbatas pada kemampuan berimajinasi dan representasi yang diberikan dalam berbagai intuisi menjadi batas
penerapan konsep tersebut. Maka menurut Immanuel
Kant, dunia bukan bicara tentang apa yang nyata tapi dunia dipandang
berdasarkan akal budi manusis. Setelah mendapatkan konsep, maka Immanuel Kant menerapkan
kategori-kategori agar lebih memudahkan manusia untuk memahami dunia, dengan
lebih menspesifikkan dan membuat ukuran dari “objek” yang dibahas.
Bab IV
Deduksi Kategori-kategori
Akal
budi manusia itu bersifat murni, spontan, aktif, dan juga kreatif, dan
pemahaman manusia terhadap sesuatu dengan menggunakan akal budinya yang murni
akar berfungsi menjadi sarana mediasi. Konseptualitas dan penerapan konsep pada
suatu objek merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam mengkonstruksi pemahaman
seseorang terhadap sesuatu, dan dalam proses konstruksi pemahaman tersebut
melalui tahap yang hierarki yaitu sinopsis, imanjinasi, dan pengenalan.
Pandangan
dari beberapa aliran filsafat tentang pengkategorian yaitu: (1) aliran
rasionalime mengatakan bahwa pengkategorian yang dilakukan itu merupakan
substansi dari sebuah proses memperoleh pengetahuan yang utuh, (2) aliran
empirisisme mengatakan bahwa setelah kita melakukan dan memiliki pengalaman
barulah kita bisa melakukan pengkategorian, (3) Kant mengakatan bahwa proses
pengkategorian merupakan sarana untuk mengenal dunia.
Menurut
Immanuel Kant berpendapat bahwa
apersepsi adalah pengalaman yang diperoleh secara simultan dengan kesadaraan
diri, dan hal ini harus terus terjadi, dan rasionalitas secara utuh diperlukan
untuk menggabungkan dan mengkonstruksi intuisi secara utuh. Contoh, ketika kita melihat seekor gajah
dewasa, kita pun akan melihat 2 pasang kaki, 1 buah belalai besar, dan 2 buah
gading keras besar, dan sebagainya sehingga terbentuklah suatu himpunan yang
beranggotakan macam-macam bagian tubuh gajah. Sehingga untuk paham tentang
seekor gajah kita harus melakukan pengamatan satu-satu tentang bagian-bagian
organ tubuh gajah yang dipadukan menjadi satu, inilah yang disebut dengan
kesatuan transcendental, dan hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode
transendental. Misalnya: (1) hanya jika ada kesatuan transcendental maka bisa
dilakukan sintesis tentang konsep-konsep, (2) saya pernah melakukan sintesis
sebuah konsep (misalkan tentang gajah), (3) maka ada kesatuan transendental.
Dalam hal ini untuk menjelaskan kesatuan transcendental, Immanuel Kant menjelaskan konsep “Aku” yang mana “aku” disini terlepas
dari fisik dan psikis diri. “Aku yang di maksud oleh Immanuel Kant disini adalah “Aku” yang kognitif yaitu tidak boleh
dipahami sebagai “Aku” sebagai pesona
individu, karena memandang “Aku” sebagai pesona individu itu bersifat empiris.
“Aku” disini adalah pemahamanku sendiri.
Dalam
12 konsep yang diajukan oleh Immanuel
Kant, dua diantaranya akan dibahas didalam buku ini yaitu tentang substansi
dan kausalitas, kedua hal yang dibutuhkan untuk mengorganisasikan data baru
yang kita dapatkan melalui intuisi hingga sampai pada pemahaman.
Dalam
melihat gajah dewasa secara utuh, tidak dapat dipahami hanya menggunakan
logika, tapi harus menggunakan pengkategorian. Kategori-kategori hanya bisa
diperoleh dari pengalaman, sedangkan konsep tentang Tuhan adalah diluar dari
pengalaman kita. Maka konsep ketuhanan tidak bisa diturunkan dari
pengkategorian. Oleh karena itu, konsep tentang ketuhanan hanya masuk dalam
bagian iman. Dan buku The Critique Of
Pure Reason ini sebagian besar membahas tentang pembatasan nalar manusia
dalam proses memahami sesuatu.
Intuisi
diproses menjadi sebuah objek melalui pengalaman. Objek adalah sesuatu yang ada
didalam pemahaman kita. Dalam memproses intuisi menjadi sebuah objek,
terjadilah suatu proses yang instan yang menggunakan kaidah a priori yang
memaksa intuisi.
Semua
peristiwa yang dipandang dari dimensi ruang dapat dipahami dengan cara yang
sama ataupun berbeda, dengan cara-cara tertentu berdasarkan kategori-kategori
yang terbentuk dalam pemahaman kita. Maka objek adalah sesuatu yang terbentuk
dalam pemahaman kita masing-masing yang terbatas pada konteks fenomena.
Pengkategorian
merupakan satu-satunya cara yang bisa kita gunakan untuk memahami dan mengalami
dunia, dan kategori-kategori yang terbentuk akan bermakna jika diterapkan pada
intuisi. Jadi, jika ada hal yang tidak mampu kita pahami, maka itu disebabkan karena kategori yang kita
buat terlalu sempit. Maka kategori inilah yang menjadi batas dari dunia kita,
karena kategori ini telah membatasi pemahaman kita.
Dalam
pengetahuan terdapat tida fakultas yaitu pertama fakultas pemahaman yang mana
pemahaman inilah yang akan memunculkan konsep, kedua adalah fakultas penilaian
(penggolongan objek dalam konsep-konsep yang ada) agar suatu konsep dari
pemahan kita itu bisa memiliki nilai “benar”, “salah”, atau “tidak
bermakna/tidak terdefenisi”, dan ketiga adalah fakultas penalaran yang menjadi
bahasa dalam menyampaikan kesimpulan dari apa yang telah kita konsepkan dari
pemahaman kita. Tidaklah ada manusia yang tidak memiliki konsep yang berguna
dalam dirinya, tetapi ada manusia yang tidak dapat menerapkan konsep tersebut
dengan benar dalam hidupnya. Penilaian disini bersifat murni dan spontan. Tapi,
dalam memahami dunia ”apriori” lah yang menjadi penentu terbentuknya suatu
konsep dan kategori itu.
Point
ini dari semua hal yang di bahas dalam buku Immanuel
Kant dengan judul The Critique Of
Pure Reason ini adalah tentang skema dalam konsep murni tentang pemahaman.
Skema disini sangat dibutuhkan untuk menyimpulkan kategori yang ada. Skema juga
sebagai jembatan untuk merepresentasikan keadaan abstrak dari diri kita. Serta
skema juga dapat menjadi jembatan untuk mendamaikan perbedaan-perbedaan konsep
abstak dengan objek konkrit. Dan yang dapat menggunakan semua ini hanyalah
forma murni intuisi yang merupakan bagian dari pengalaman. Dengan dimensi waktu
kita dapat memahami dan mendalami dunia, karena semua akan berubah tiap saat,
dalam waktu sepersekian detik. Aku
adalah yang kemarin, aku adalah yang hari ini, dan nanti aku adalah yang besok.
Tidak ada yang sama, semua berubah, jika dilihat dari segi dimensi waktu. Maka
kita dapat memahami suatu objek, jika kita melihat dimensi waktunya yaitu
perubahan yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu.
BAB V
ANALOGI
Dalam
buku The Critique Of Pure Reason, kant
menyebutkan tiga analogi, yaitu substansi, kausalitas, dan komunitas. Aliran
rasionalisme dan empirisisme memiliki pandangan berbeda tentang substansi dan
kausalitas, dan Immanuel Kant memiliki
pandangan sendiri tentang hal ini. Dimana pandangan Immanuel Kant inilah yang menjadi penengah dari dua aliran yang
bertentangan ini. Immanuel Kant menyebutkan
bahwa kategori-kategori yang terbntuk itu bersifat a priori (ada dalam pikiran
manusia) namun kategori ini akan memiliki makna hanya ketika dilia korelasinya
dengan pengalaman yang ada. Maka karena itulah dapat dikatakan bahwa kategori
ini bersifat sintetik apriori. Kategori
terbentuk dari pengalaman kita melintasi ruang dan waktu. Ada hal yang berubah
dalam waktu, ada pula hal yang tetap dalam waktu. Substansi adalah hal yang
tidak berubah dalam waktu dan kausalitas adalah hal yang berubah dalam waktu.
Pemahaman
dan pengetahuan kita hanya sebatas pada dunia fenomena saja. Kita tidak akan
pernah tau tentang dunia yang membuat dunia kita sekarang menjadi ada. “dunia”
yang membuat dunia kita sekarang menjadi ada adalah dunia noumena yaitu dunia
yang tidak dapat kita ketahui. Tapi, pertanyaannya adalah bagaimana kita tau
ada dunia noumena jika noumena itu sendiri tidak dapat diketahui? Oleh sebab
itu, kausalitas membatasi kategori hany sampai semua sesuatu yang ada dalam
pengalaman kita. Noumena adalah batas dari pemahaman manusia yang jika sampai
nantipun tidak akan pernah kita pahami.
Komentar
Posting Komentar