TUGAS 6 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE V) dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, MA
TUGAS
6
(REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU
VIDEO CONFERENCE V)
Nama : Nur Fitriani
NIM : 20309251004
Kelas : S2 Pmat intake
2021
Mata
Kuliah : Filsafat Ilmu
KEDUDUKAN
KARYA
Ekstensi
dari sebuah karya itu ada banyak. Karya meliputi keseluruhan, bicaranya, tindakannya,
pikirannya, tulisannya, sentuhannya, singgungannya, formulanya, masalahnya, dan
lain sebagainya sampai masuk pada dunia berkarya. Jenis-jenis karya pun ada
banyak, misalnya karya biasa dan karya istimewa, karya terpilih dan karya belum
terpilih, karya orang awam dan karya para pejuang, karya lokal dan karya
internasional, karya fiksi dan karya nonfiksi, karya palsu dan karya asli,
karya sendiri dan karya bersama, dan yang sebenar-benarnya karya adalah karya
ilmiah tapi ilmiah masih terlalu sempit untuk mengukur dunia filsafat.
Skripsi/tesis/disertasi termasuk karya ilmiah lokal, sebatas untuk universitas
domainnya saja. Tapi untuk tingkat internasional, yang dimaksud karya ilmiah
adalah karyanya doktor keatas. Penilaian
untuk doktor pun bisa dikatakan dari 0 sampai 100. Dari doktor yang tidak
pernah meneliti, doktor yang setiap hari meneliti, hingga sampai pada tingkatan
doktor yang meneiliti dan hasilnya dipublikasikan. Karya ilmiah yang sebenarnya
harus didampingi oleh doktor. Membuat karya ilmiah harus ada pembimbingnya.
Yang
termasuk ilmiah adalah penelitian yang menggunakan metode ilmiah, buku yang
ditulis berdasarkan penelitian ilmiah (buku saintifik). Yang termasuk ilmiah
semua adalah skripsi/tesis/disertasi. Yang bisa dikatakan ilmiah pada umumnya
adalah tulisan yang disebut dengan tulisan ilmiah. Namun lebih luas dari itu
ada juga yang dikatakan dengan pidato ilmiah atau pidato formal, dan bisa
dijadikan sebagai referensi (misalnya diambil dari pidato rector pada ….),
adapun ilmiah yang paling rendah, yaitu intuisi/pengalaman.
Karya
ilmiah yang paling rendah disebut juga dengan kamensen (khayalak ramai) yaitu
yang tidak mengandung unsur ilmiah, misalnya menurut penuturan seorang Asaat
diwawancarai ketika ia sedang berjualan
dipasar B, ia mengatakan bahwa harga bawang sedang meningkat drastis dengan
data terkumpul sekian %.
Bagaimana
caranya membuat sebuah karya yang bernilai sebagai karya ilmiah untuk bisa ikut
serta menyukseskan kuliah bermakna, dan bagaimana filsafat bisa berkontribusi atau
teknologi dapat diterapkan dalam bidang pendidikan matematika. Filsafat semakin
keatas bersifat konvergen yaitu menjadi sederhana dan menuju satu titik dan
titik yang paling atas adalah kuasa Tuhan (kausal prima), dan semakin kebawah
semakin divergen yaitu semakin kompleks menuju realita (menuju banyak perkara).
Didalam
filsafat dapat dikataka sebenar-benarnya hidup adalah alienasi (mengasingkan
diri) dan dealienasi (tidak mengasingkan diri). Manusia pada malam hari
terasing dan pada siang hari tidak terasing. Ketika dalam Rahim ibu kita
disebut terasing secara pikiran manusia, namun secara kuasa Tuhan tidak ada
yang terasing, semua dalam barokah dari Tuhan.
Filsafat
dan sejarah adalah beda. Data primer dalam sejarah adalah sentuhan langsung,
tapi untuk ilmu humaniora, yang dimaksud dengan data primer adalah buku
aslinya. Dalam membuat karya ilmiah harus ditulis sumbernya.
Filsafat
yang paling tinggi adalah filsafat umum. Semua hal dalam filsafat terdiri dari
tiga unsur, yaitu ontologis (hakikat ilmu pengetahuan), epistimologis (metode/sumber/macam/jenis
ilmu penegtahuan), dan aksiologis (nilai). Filsafat diturunkan menjadi
ilmu-ilmu terapan sehingga terbentuklah filsafat matematika, filsafat sosial,
filsafat negara, filsafat pancasila (monodualisme), filsafat pendidikan dan
seterusnya.
Didalam
filsafat pendidikan salah satunya adalah filsafat pendidikan matematika, yang
didalamnya pun ada filsafat mengajar dan filsafat belajar. Maka tidak ada
alasan jika kita tidak bisa menemukan filsafat didalam pembelajaran matematika.
Filsafat adalah psikologi yang diwacanakan. Dari sisi platonisme menyebutkan
hakikat adalah yang ada dan yang mungkin ada, forma dan substansi. Tetapi
epistimologinya pun mengikuti, yaitu
idealisme. Semua sudah ada, manusia tinggal menemukan saja. Menurut
aristotalian, ontology adalah realita atau pengalaman, dan epistimologisnya
adalah empirisme. Ada 4 komponen ilmu menurut Immanuel Kant yaitu sintetik,
analitik, apriori, dan aposteriori. Sintetik adalah memikirkan hubungan
sebab-akibat dari realita. Aposteriori adalah pengalaman, kita tidak akan punya
ilmu kalau tidak punya pengalaman. Analitik adalah logika (hubungan antar
konsep yang bersifat konsisten), apriori adalah masa depan.
Contoh
ketiga unsur dalam soal matematika, misalnya mebuat soal bagaimana hakikat soal
itu atau bagaimana kedudukan soal itu dan apa maknanya, bagaimana cara
mengerjakannya, dan apa manfaat dari adanya soal itu. Membuat soal harus
memenuhi etik dan estetika. Ketiga unsur itu saling berhubunga (ontologis/epistimologis/aksiologis).
Komentar
Posting Komentar