TUGAS 8 (REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU VIDEO CONFERENCE VIII) dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, MA
TUGAS
8
(REFLEKSI KULIAH FILSAFAT ILMU
VIDEO CONFERENCE VIII)
Nama : Nur Fitriani
NIM : 20309251004
Kelas : S2 Pmat intake
2021
Mata
Kuliah : Filsafat Ilmu
BELAJAR ADALAH MEMBANGUN HIDUP
Makna
ontologis dari belajar secara mendalam adalah membangun hidup.. dalam
matematika banyak kegiatan yang disebut dengan kegiatan atau proses membangun,
diantara menemukan rumus itu disebut dengan membangun rumus, menemukan bukti
juga disebut dengan membangun bukti, menyebut ciri-ciri disebut dengan
membangun sifat, menentukan langkah-langkah disebut dengan membangun prosedur,
dan lain sebagainya.
Puasa
merupakan pendidikan karakter yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia. Rejeki jika
di ekstensikan dan di intensikan tidak hanya berupa harta, tapi bisa berupa
kesempatan, kejadian-kejadian, keadaan-keadaan, kabar baik, keluarga, merasa
bersyukur, bisa berdoa, semua itu merupakan rejeki dari Tuhan.
Secara
teori, belajar tidak akan pernah sampai pada yang disebut dengan membangun ilmu
dan membangun hidup, kecuali dalam belajar filsafat dan bertemu dengan proses
hermenetika dan bertemu dengan konstruktivisme. Dalam praktiknya, pendidikan
dimaknai dengan lebih sempit, misalnya mencapai tujuan. Metode belajar yang
paling hakiki adalah metode membangun yang diteladankan oleh Tuhan kepada
manusia dalam kaitannya alam semesta ciptaan Tuhan. Contohnya, sepasang burung
berhasil menyelesaikan proses membangun sarang dengan cara bekerja sama dengan
pasangannya, berinteraksi dengan alam. Ciri-ciri dari metode membangun adalah
terjadinya pengulangan (diskrit) dan keberlanjutan (kontinu), maka belajar
adalah hiduo dan hidup adalah interaksi antara yang dapat diulang dan yang
tidak dapat diulang. Interaksi yang dapat diulang dan tidak dapat diulang yang
melalui ruang dan waktu inilah yang disebut dengan hermenetika atau disebut
dengan proses menjalani hidup.
Semua
teori tentang belajar tidak akan pernah mencapai pada kesimpulan yang
mengatakan bahwa belajar adalah membangun hidup, hanya ada di filsafat dan itu
lah yang disebut dengan the power of metafisik atau the power of phylosopi. Itulah
yang menyebabkan seseorang yang belajar filsafat akan menjadi cerdas dan hebat,
namun akan merasa teralienasi karena ketidaklazimannya dibanding dengan
kebanyakan orang pada umumnya. Contohnya, apakah Tuhan bisa mengangkat batu
besar yang Dia ciptakan sendiri??? Tuhan itu maha kuasa, semua batu yang Tuhan
ciptakan pasti bisa diangkat oleh Tuhan, tapi ini pun dapat mengandung makna
bahwa Tuhan tidak dapat menciptakan batu yang Tuhan sendiri tidak mengangkatnya.
Ini adalah pikiran akal untuk mendeskreditkan logika pikiran untuk membuat
sebagian orang menjadi menganggap bahwa filsafat adalah sesat. Sedangkan filsafat
adalah olah pikir kita sendiri, filsafat adalah diri kita sendiri.
Didalam
filsafat, A tidak sama dengan A selama kita menggunakan persepsi realita. Manusia
tidak akan pernah bisa menunjuk dirinya sendiri, karena belum selesai dia
menunjuk dirinya, dirinya sudah berubah dari yang tadi menjadi yang sekarang,
dan dari yang sekarang menjadi nanti. Maka manusia bisa menunjuk dirinya
sendiri itu hanya aka nada dalam pikiran, tidak ada dalam realita.
Dari
sisi metafisik dan pikiran, ending dari berfilsafat itu adalah mensyukuri
karunia Tuhan. Metode yang paling tepat adalah ketika menyontoh dan
berorientasi pada ciptaan Tuhan. Contohnya, bumi selalu bergerak berputar
dengan cepat tetapi sangat stabil. Dari pergerakan bumi yang sangat cepat,
teratur, tetapi stabil inilah kita didalam pembelajaran matematika dapat
menurunkannya menjadi rancangan proses pembelajaran matematika yang cepat,
teratur, dan stabil pula. Siswa yang mengikuti proses pembelajarn matematika
yang kira rancang, dapat belajar dengan teratur, memahami dengan cepat, dan
keadaan psikologis siswapun tetap senantiasa stabil. Pusat putaran absolut yang
tidak terbantahkan adalah Tuhan pencipta alam, contohnya setiap hari kita
melakukan sholat 5 waktu, itu salah satu
bukti bahwa kita hidup sejatinya untuk mengitari Tuhan.
Hermenetika
jika diterapkan dalam fenomenologi yaitu abstarksi (memilih) dan idealisasi (memikirkan,
dan menyimpulkan). Orang matematik, akan
dapat meabstraksi hermenetika dengan geometri (lingkaran, dan garis lurus). Dalam
hidup, lingkaran artinya memutari atau mengulangi, dan garis lurus artinya
tidak pernah bisa mengulangi.
Makna
dari memfasilitasi belajar dengan kemampuan yang berbeda-beda adalah menyediakan
semua media dan bahan ajar lengkap dengan scaffolding untuk semua karakter dan
kemampuan para siswa. Guru matematika fungsinya adalah melayani siswanya untuk
mampu belajar matematika dengan sangat baik. Baik untuk diterapkan merdeka
belajar seperti di London United Kingdom. Guru memberi kebebasan kepada siswa
untuk memulai, memproses, dan mendapatkan hasil yang saling berbeda, inilah yang
disebut dengan paradigma pendidikan yang menganut paham demokrasi. System penilaiannya
menggunakan assessment, dinilai berdasarkan kemampuan siswa masing-masing.
Komentar
Posting Komentar