PERBAIKAN TUGAS G (Mengungkap Fenomena Filsafat Dalam Pembelajaran Matematika) dengan dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu Prof. Dr. Marsigit, MA
EDISI REVISI/PERBAIKAN
MENGUNGKAP HAKIKAT, METODE, DAN
MANFAAT BERFIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Nur
Fitriani (20309251004)
Program Studi S2 Pendidikan Matematika
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Intake semester genap tahun 2020/2021
Email:
nufitriani.2020@student.uny.ac.id
ABSTRAK
Belajar
pada dasarnya tidak terbatas pada ruang dan waktu sama halnya seperti metafisik yang dalam prosesenya disebut
dengan infinit regres yaitu kebawah
tidak akan pernah selesai dan keatas pun tidak akan pernah selesai kecuali
sampai pada kuasa Tuhan atau disebut
dengan Kausal prima. Kalimat ini
mengandung makna bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Salah satunya adalah pembelajaran formal yang dilakukan disekolah khususnya
dalam pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran matematika ada banyak sekali
karakter dan kemampuan yang ingin ditanamkan dan dikembangkan dalam diri siswa.
Salah satu kemampuan yang ingin ditanamkan dan dikembangkan pada siswa melalui
pembelajaran matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Kemampuan berfikir
kritis merupakan epistimologi dari
pembelajaran matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika siswa
perlu melakukan tahapan-tahapan kemampuan berfikir kritis untuk dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang salah satunya adalah melakukan pemecahan masalah. Kemampuan
berfikir kritis adalah kemampuan berfikir tingkat tinggi yang melibatkan
beberapa aktivitas yaitu aktivitas menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
Dalam melatih kemampuan berfikir kritis siswa diawali dengan “sintesis”, sintesis disini berarti
melihat fenomena-fenomena yang terjadi kemudian mengamati/mencermati/memikirkan
tentang hal-hal dari fenomena tersebut kemudian membuat suatu “pembahasan” yang
akan menjadi persepsi dari siswa. Ini menunjukkan bahwa proses terbentuknya “logos”. Karena logos sejatinya adalah
memikirkan/mempertentangkan/menimbulkan perdebatan dari apa yang terjadi atau
terhadapa pengetahuan yang ada. Kemampuan berfikir kritis ini dapat ditinjau
dari aksiologisnya, yaitu dapat
menjadi bekal untuk siswa dapat survive dalam
kehidupannya yang tentu mengalami perkembangan jaman. Kemampuan berfikir kritis
ini diharapkan dimiliki oleh semua siswa karena dengan memiliki kemampuan
berfikir kritis siswa mampu menghadapi dan menyelesaikan semua masalah yang
dihadapinya dengan sangat “rapi” dan terstruktur. Kemampuan berfikir kritis
juga akan membuat siswa mampu memiliki kemampuan adabtabilitas dalam hidupnya.
Pada tulisan ini, akan diungkap bagaimana kemampuan berfikir kritis dalam
pembelajaran matematika jika dilihat dari tiga
unsur filsafat, yaitu ontologi
,epistimologi, dan aksiologi.
PENDAHULUAN
Berfikir
kritis merupakan sedikit bagian dari keseluruhan aspek yang terlibat dalam
proses pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan
dari kemampuan berfikir kritis. Oleh sebab itulah, dalam tulisan ilmiah ini
saya mengambil topik tentang kemampuan berfikir
kritis dengan melihat dari unsur ontology, epistimologis, dan aksiologisnya
yang merupakan bagian dari keseluruhan dalam mengungkap filsafat dalam pembelajaran matematika yang dilakukan
disekolah.
Filsafat
adalah sebuah studi yang membahas tentang semua fenomena yang ada. Terkhusus
filsafat ilmu merupakan studi yang membahas tentang apa hakikat atau kedudukan
dari ilmu, bagaimana cara atau metode untuk bisa mendapatkan dan mempelajari
ilmu, serta apa manfaat dari ilmu tersebut jika dilihat dari etik dan estetikanya.
Dalam
filsafat pembelajaran matematika, artinya yang dibahas adalah semua hal yang
terdapat dalam proses pembelajaran matematika. Baik dari segi gurunya,
siswanya, instansinya, sarana dan prasarananya, materi ajarnya, model
pembelajarannya, kemampuan-kemampuan dalam pembelajaran matematika, dan lain
sebagainya. Matematika dianggap sebagai ratu sekaligus sebagai pelayan bagi
ilmu-ilmu yang lain. Matematika dianggap sebagai ratunya ilmu karena matematika
merupakan sumber dari munculnya ilmu-ilmu yang lain. Begitupun matematika
dianggap sebagai pelayan ilmu karena pada penerapan bidang ilmu yang lain harus menerapkan ilmu matematika.
Misalnya dalam ilmu biologi pada pembahasan tentang hereditas, digunakan ilmu
matematika untuk menghitung perbandingan dan persentase antar kromosom. Pada
ilmu agama dalam pembahasan pembagian warisan juga diterapkan ilmu matematika
untuk menghitung perbandingan dan persentase warisan antar anak laki-laki dan
perempuan. Begitupun pada ilmu fisika, kimia, akuntansi, dan lain sebagainya.
Inilah yang disebut sebagai aksiologisnya
epistimologis berfikir kritis, artinya kebermanfaat berfikir kritis dalam
penerapannya dalam ilmu matematika dan disiplin ilmu yang lain.
Selain
dilihat dari kebermanfaatan ilmu matematika dalam bidang yang lain, matematika
yang dirancang dalam suatu proses pembelajaran matematika juga dapat
memfasilitasi pengembangan karakter-karakter penting pada diri siswa untuk
dapat bertahan hidup seiring dengan perkembangan jaman (unsur aksiologis dari berfikir kritis). Salah satu kemampuan
matematika yang dapat ditanamkan dan dikemabangkan dalam diri siswa melalui
proses pembelajaran matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Karena dengan kemampuan
berfikir kritis inilah siswa mampu melakukan pemecahan masalah yang tidak hanya
terbatas pada masalah matematika saja, melainkan lebih luas yaitu masalah dalam
kehidupan sehari-harinya. Inilah yang dimaksud bahwa dalam filsafat dikenal dua metode, yaitu intensi dan ekstensi. Intensi artinya mendalam dan meninggi,
dalam hal ini dimaksud semakin mendalami permasalahan dengan berfikir kritis,
siswa juga semakin meninggikan kualitas dari pemecahan masalah atau solusi yang
diberikannya. Ekstensi artinya
memperluas sekaligus mempersempit, dalam hal ini berarti dengan berfikir
kritis siswa tidak hanya mampu menyelesaiakan permsalahan matematika saja, tapi
juga dapat menyelesaikan permasalahan dalam disiplin ilmu yang lain, dan dalam
kehidupan nyata yang sangat luas dan kompleks. Kemampuan berfikir kritis pada
dasarnya memiliki tiga unsur, yaitu hakikat
atau kedudukan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika, metode/cara/proses/tahap berfikir
kritis dalam pembelajaran matematika, dan manfaat
atau nilai dari kemampuan berfikir kritis tersebut dalam pembelajaran
matematika dan lebih umum dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
filsafat juga dikenal forma dan substan
atau wadah dan isi. Semua hal yang ada dan yang mungkin ada dalam
pikiran manusia, bisa menjadi wadah
sekaligus isi. Karena tiadalah wadah tanpa isi, dan tiadalah isi tanpa
wadah. Dalam hal ini, jika kita menganggap pembelajaran matematika sebagai
wadah, maka isi dari pembelajaran matematika salah satunya adalah kemampuan
berfikir kritis. Namun berfikir kritis tidak menjadi satu-satunya hal yang
esensial dalam proses pembelajaran matematika siswa. Namun tulisan ini spesifik
membahas tentang mengungkap unsur-unsur filsafat dalam pembelajaran matematika
yang ditinjau dari kemampuan berfikir kritis siswa. Jika kita memandang
kemampuan berfikir kritis sebagai wadahnya, maka isi dari berfikir kritis
adalah pemecahan masalah atau solusi-solusi yang mampu diberikan siswa.
Semua
hal yang ada dan yang mungkin ada dipikiran manusia juga memiliki struktur. Struktur ini dibedakan
menjadi dua, yaitu struktur tetap
dan struktur berubah/bergerak.
Struktur dalam proses pembelajaran matematika adalah adalanya model-model
pembelajaran yang di dalamnya termuat sintaks-sintaks
atau langkah-langkah pembelajaran yang melibatkan guru, siswa, kompetensi atau
bahan ajar, media pembelajaran. Dalam model pembelajaran yang dipilih atau
dirancang oleh guru/pengajar, memiliki tujuan-tujuan tersendiri. Salah satu
dari banyaknya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika jika
dilihat dari aspek afektifnya adalah tumbuh kembangnya kemampuan-kemampuan
matematis siswa yang salah satunya adalah kemampuan berfikir kritis.
PEMBAHASAN
Defenisi dan Hakikat Kemampuan
Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika
Berfikir
kritis (dalam kurniawati: 109) memiliki kaitan yang erat dengan pembelajaran
matematika. Dimana berfikir kritis ini merupakan suatu aktivitas atau proses (logos) berfikir tingkat tinggi atau
berfikir kompleks (ekstensi) yang
melibatkan beberapa aspek didalam prosesnya, yaitu merumuskan permasalahan, merancang
strategi penyelesaian dan alternative strategi lainnya (epistimologis),
evaluasi, dan sensitivitas terhadap masalah. Berfikir kritis adalah jenis
berfikir yang lebih tinggi dari sekedar menghapal materi tetapi menggunakan dan
memanipulasi bahan-bahan yang dipelajari dalam situasi yang baru. Kemampuan
berfikir kritis diperlukan agar peserta didik dapat mengelola dan memanfaatkan
informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang dinamis (keadaan yang terus
berkembang) dan kompetitif (persaingan ketat). Ini menunjukkan bahwa kemampuan
berfikir kritis merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh
setiap individu agar bisa survive dalam semua keadaan yang akan datang. Oleh
sebab itu semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan proses pembelajaran
harus mengetahui tentang betapa pentingnya keberadaan dari kemampuan berfikir
kritis ini, termasuk didalamnya mengenalkan indikator-indikator dari kemampuan
berfikir kritis dalam pembelajaran matematika.
Jika
dilihat dari ontologisnya yaitu dari
hakikat dan kedudukan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika,
berfikir kritis terletak didalam kemampuan-kemampuan matematis, lebih spesifik
lagi dapat dikatakan kemampuan berfikir kritis terletak di atas dari berfikir
kreatif dan berfikir inovatif. Karena siswa akan dapat memiliki kemampuan
berfikir kreatif dan berfikir inovatif mana kala siswa telah mampu kritis dalam
melihat permasalahan yang disajikan dari aspek dan berbagai sudut pandang.
Menurut
Farib dkk (2019) Umumnya pembelajaran matematika bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir matematis siswa. Dalam pembelajaran matematika, selain
kemampuan berpikir matematis, ada beberapa kompetensi lainnya yang harus
dikuasai siswa dalam mempelajari matematika, seperti kemampuan siswa dalam
bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta mengaitkan konsep-konsep
matematika atau dalam ilmu psikologi pembelajaran matematika disebut dengan pembentukan skema, namun jika dilihat
dari ilmu filsafat hal ini bisa dikatakan sebagai analitik aposteriori. Kenapa dikatakan analitik, karena dalam prosesnya siswa membuat sebuah perencanaan
pemecahan masalah yang diawali dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dan
yang kurang, dan membuat dugaan sementara atas alternative solusi yang
dirancang oleh siswa. Dikatakan pula sebagai aposteriori karena apostteriori berarti paham setelah melihat,
sedangkan hipotesis adalah “dugaan sementara”. Dugaan artinya belum yakin,
kenapa siswa belum yakin itu karena siswa belum melihat bukti dari solusi
tersebut benar-benar dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan oleg
guru/pengajar. Siswa akan benar-benar paham dan yakin setelah solusi-solusi
yang dirancang dengan menggunakan kemampuan berfikir kritis siswa ini dapat
dibuktikan kebenarannya menggunakan pembuktian matematik.
National
Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000) menetapkan lima standar
kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, antara lain kemampuan
komunikasi, kemampuan penalaran, kemampuan koneksi, kemampuan representasi,
serta kemampuan pemecahan masalah. Berpikir matematis dapat digolongkan dalam
dua jenis, yaitu berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat tinggi. Berpikir
tingkat tinggi pada Taksonomi Bloom termasuk pada tahap menganalisis (C4),
sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir matematis, siswa juga harus mengembangkan kemampuan
berpikir tingkat tinggi atau dengan kata lain kemampuan berfikir kritis. Hal
ini semua dapat dipandang sebagai isi
dari pembelajaran matematika jika memang pembelajaran matematika kita tempatkan sebagai wadah atau forma nya.
Menurut
Sulistiani (2016) ciri-ciri dari seseorang yang memiliki kemampuan berfikir
kritis adalah mampu berfikir secara rasional dalam menyikapi suatu
permasalahan, mampu membuat keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah,
dapat melakukan analisis, menorganisasikan, dan menggali informasi berdasarkan
fakta yang ada, serta mampu membuat kesimpulan dalam menyelesaikan masalah dan
membuat argumen yang benar dan sistematik hal ini disebut dengan sintesis. Kemampuan berfikir kritis
juga dapat dipahami sebagai suatu kegiatan (dalam hal ini dapat dikatakan
sebagai kegiatan yang menghasilkan pengalaman maka ini dapat dipandang sebagai empirisisme) penalaran yang
berorientasi pada suatu proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep,
aplikasi, analisis, ataupun penilaian dari suatu informasi untuk memecahkan
suatu permasalahan.
Metode atau Proses Berfikir Kritis
dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran
matematika erat kaitannya dengan berfikir kritis. Kemampuan berfikir kritis
dapat ditumbuh kembangkan dalam proses pembelajaran matematika karena telah
dijelaskan diawal bahwa dalam hal ini pembelajaran matematika dipandang sebagai
wadah atau forma maka sudah seharunya proses pembelajaran matematika yang
dirancang dan diterapkan oleh guru menjadi wadah untuk memfasilitasi siswa dalam memperoleh bukan hanya sekedar kemampuan
dari aspek kognitif, tapi juga dari aspek psikomotorik dan afektifnya, dan
kemampuan matematika yang sudah tumbuh dan berkembang dalam diri siswa dapat
diterapkan atau dirasakan manfaatnya dalam melakukan pemecahan masalah
matematika mapun masalah diluar matematika.
Semua
hal yang ada dunia ini memiliki struktur, manusia bestruktur, dunia
berstruktur, pikiran berstruktur, dan lain sebagainya termasuk proses
pembelajaran matematika dan konten matematika. Begitupun dengan kemampuan
bersfikir kritis juga memiliki struktur arau tahapan dalam prosesnya. Perkins
et al, (dalam Kurniawati, 2020) menyebutkan bahwa berfikir kritis memeliki
beberapa tahapan, yaitu tahap klarifikasi, tahap asesmen atau penilaian, tahap
penyimpulan, dan tahap menerapkan strategi/taktik. Dimana lebih lanjut
dijelaskan bahwa tahap klarifikasi adalah tahap dimana siswa akan menyatakan,
mengklarifikasi, menggambarkan atau mendefenisikan masalah. Tahap asesmen atau
penilaian adalah tahap dimana siswa akan mengemukakan fakta-fakta terkait
argumen yang akan dikemukakan, atau menghubungkan masalah satu dengan masalah
lain yang dalam filsafat tahap ini disebut dengan sintetis yaitu melihat
beberapa fenomena yang terjadi dan mengaitkannya serta melihat hukum sebab
akibat yang termuat didalam fenomena tersebut. Tahap penyimpulan adalah tahap
dimana siswa dapat menggeneralisasikan, menjelaskan dan membuat hpotesis atau
dugaan sementara tentang solusi yang akan diajukan untuk menjadi pemecahan
suatu masalah yang ada. Terakhir adalah tahap pengajuan strategi dan
mengevaluasi berbagai tindakan yang mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikan
suatu masalah. Inilah yang disebut dengan epistimologis
dari berfikir ktiris.
Berfikir
kritis dalam matematika erat hubungannya dengan cara berfikir siswa untuk
mengkonstruksi (masuk dalam aliran
konstruktivism) pengetahuan matematikanya. Sehingga ada beberapa indikator
kemampuan berfikir kritis yang dikemukakan oleh Facione (dalam Kurniawati,
2020) Interpretation, yaitu keterampilan siswa yang dapat memahami dan
mengekspresikan makna atau arti dari suatu masalah. Analysis adalah
keterampilan siswa dapat mengidentifikasikan dan menyimpulkan hubungan antar
penyataan, pertanyaan, konsep, dan bentuk yang lain. Evaluation adalah
keterampilan dimana siswa mampu mengakses kredibilitas (kepercayaan) dari suatu
pernyataan/representasi serta mampu mengakses secara logika hubungan antar
pernyataan, deskripsi, pernyataan, maupun konsep. Inference yaitu siswa mampu
mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk dapat menarik kesimpulan.
Explanation adalah siswa dapat menetapkan (dapat
dikatakan sebagai determin) dan memberikan alasan secara logis berdasarkan
hasil yang diperolehnya. Self regulation
adalah siswa dapat memonitoring aktivitas kognitif seseorang,
unsur-unsur yang digunakan dalam menyelesaikan masalah, khususnya dalam
menerapkan keterampilan dalam menganalisis dan mengevaluasi. Menurut Afandi
(2016) berdasarkan penelitiannya dilapangan, bahwa kemampuan berfikir kritis
setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu berfikir kritis dengan kategori
tinggi, sedang, dan rendah, inilah yang dimaksud dengan struktur dari kemampuan
berfikir kritis.
Manfaat atau Kegunaan Kemampuan Berfikir Kritis dalam
Pembelajaran Matematika
Telah
dikatakan diawal bahwa kemampuan berfikir kritis itu dapat diartikan sebagai
kegiatan penalaran yang melibatkan intelektual dalam pembentukan konsep,
aplikasi, analisis, maupun penilaian dari suatu informasi yang tujuannya adalah
mencapai solusi dari suatu permasalahan yang disajikan atau permasalahan yang
sedang dihadapi sekarang ataupun akan datang. Afandi (2016) mengatakan bahwa
banyak sekali manfaat (dipandang dari
unsur aksiologisnya yaitu etik dan estetika berfikir kritis) yang diperoleh
siswa dengan kemampuan berfikir kritis yang dimilikinya, yaitu membuat siswa
mampu menghadapi perkembangan IPTEK dunia dan menyelesaikan masalah-masalah
yang timbul karenanya. Kemudian, pentinya kemampuan berfikir kritis dalam
pembelajaran matematika untuk menghadapi tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi
Asean). Belajar matematika sama halnya belajar logika (dapat pula dikatakan sebagai aliran rasionalisme), karena
kedudukan matematika dalam pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar (dapat
dipandang sebagai foundamentalisism)
atau ilmu alat/media”. Sehingga untuk dapat mempelajari sains, teknologi, atau
ilmu lainya haruslah dapat menguasai ilmu dasar yaitu matematika. Menyadari
akan pentingnya matematika dalam kehidupan khususnya dalam dunia kerja, maka
dalam mempelajari dan menyelesaikan suatu permasalahan matematika harus
mempunyai keterampilan yang khusus.
Sebagai
salah satu contoh manfaat dari kemampuan berfikir kritis adalah peran dunia
pendidikan sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan di era MEA. Pendidikan
tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pembentukan MEA dan dalam
mempersiapkan masyarakat Indonesia untuk menghadapi integrasi regional. Pendidikan
yang berkualitas dapat dilihat dari output yang dihasilkan yaitu siswa-siswa
yang tidak hanya unggul di bidang akademik (hard skill), tetapi juga unggul
dalam soft skill, sehingga akan menjadi pribadi yang berkompeten, mandiri,
kerja keras dan professional. Secara garis besar, peran pendidikan dalam
menghadapi MEA diantaranya : (1) Pendidikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Pendidikan memberikan bekal ilmu pengetahuan bagi siswa. Ilmu pengetahuan
memberikan wawasan yang luas bagi siswa yang nantinya berguna dalam memecahkan
masalah dan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuannya. (2) Pendidikan
memberikan keterampilan. Pendidikan merupakan salah satu alat untuk mengajarkan
keterampilan pada siswa baik disekolah formal, maupun non formal. MEA menuntut
masyarakan Indonesia memiliki keterampilan yang mumpuni diberbagai bidang ilmu,
dengan tujuan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri hingga nantinya bisa
bersaing dengan masyarakat dari negara lain di ASEAN. (3) Pendidikan sebagai
sarana melatih mental, tanggung jawab, dan kedisiplinan.Pemerintah saat ini
sedang gencar-gencarnya menanamkan pendidikan karakter dalam pembelajaran di
sekolah. Mental, tanggung jawab, dan kedisiplinan yang tinggi menjadi unsur
penting yang harus dikembangkan di era pendidikan saat ini. (Sulistiani,2016)
METODE
Metode
yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan metode studi
literature atau studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah proses pengumpulan
informasi dari berbagai sumber yang ada di perpustakaan. Studi kepustakaan
merupakan proses mempelajari referensi dari hasi penelitian sebelumnya untuk
digunakan sebagai landasan teori. Studi kepustakaan merupakan teknik yang
dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, artikel, majalah, media teknologi informasi,
dan lain sebagainya. Referensi yang sudah dikumpulkan digunakan untuk memilih
topik yang akan dibahas. Dalam studi kepustakaan juga dilakukan sintesis yaitu
mendeskripsikan kembali dengan bahasa sendiri ataupun teori dari para ahli yang
termuat dalam referensi yang dikumpulkan. Penyususnan artikel ini menggunakan
pengumpulan referensi dari media jurnal-jurnal pendidikan matematika.
KESIMPULAN
Salah
satu “yang ada” dan “yang mungkin ada” dalam pembelajaran matematika adalah
kemampuan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika. Kemampuan berfikir
kritis ini dapat diperoleh oleh siswa dengan aktif mengikuti proses
pembelajaran matematika yang telah dirancang oleh guru. Kemampuan berfikir kritis
hakikatnya adalah sebagai proses berfikir tingkat tinggi yang komplek yang
berkedudukan diatas dari kemampuan berfikir kreatif dan kemampuan berfikir
inovatif yang melibatkan aspek intelektual untuk membangun sebuah pengetahuan
matematika, dan secara aksiologisnya dilihat dari etik dan estetiknya,
pengetahuan itu akan digunakan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi,
baik permasalahan matematika maupun permasalahan diluar matematika, dan untuk
mempu survive dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang
akan datang. Dalam proses berfikir kritis akan melibatkan beberapa tahap antara
lain adalah tahap klarifikasi, assessment, penyimpulan, dan penerapan strategi
atau taktik untuk memperoleh solusi dari suatu permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistiani, Eny. dkk. 2016. Pentingnya
Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika untuk Menghadapi Tantangan MEA. Seminar Nasional Matematika X Universitas
Negeri Semarang 2016.
Kurniawati, Dewi. dkk. 2020. Pentingnya
Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Matematika. PeTeKa (Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran), Volume 3 Nomor 2 Tahun 2020 DOI
: 10.31604/ptk.v3i2.107-114
Afandi, Ahmad. 2016. Berpikir Kritis
Siswa Smp Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Kemampuan Matematika.
Jurnal Gammath, Volume I Nomor 2, September 2016.
Farib, P., Ikhsan, M., & Subianto,
M. (2019). Proses berpikir kritis matematis siswa sekolah menengah pertama
melalui discovery learning. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 6(1), 99-117.
doi:https://doi.org/10.21831/jrpm.v6i1.21396
Dikutip dari substan perkuliahan
Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA pada S2 Pendidikan
Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar