TUGAS G (Mengungkap Fenomena Filsafat Dalam Pembelajaran Matematika) dengan dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu Prof. Dr. Marsigit, MA
MENGUNGKAP
HAKIKAT, METODE, DAN MANFAAT BERFIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Nur
Fitriani (20309251004)
Program Studi S2 Pendidikan Matematika
FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta
Email:
nufitriani.2020@student.uny.ac.id
ABSTRAK
Belajar
pada dasarnya tidak terbatas pada ruang dan waktu, kalimat ini mengandung makna
bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Salah satunya adalah
pembelajaran formal yang dilakukan disekolah khususnya dalam pembelajaran
matematika. Dalam pembelajaran matematika ada banyak sekali karakter dan
kemampuan yang ingin ditanamkan dan dikembangkan dalam diri siswa. Salah satu
kemampuan yang ingin tanamkan dan dikembangkan pada siswa melalui pembelajaran
matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Kemampuan berfikir kritis adalah
kemampuan berfikir tingkat tinggi yang melibatkan beberapa aktivitas yaitu
aktivitas menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan berfikir
kritis ini diharapkan dimiliki oleh semua siswa karena dengan memiliki
kemampuan berfikir kritis siswa mampu menghadapi dan menyelesaikan semua
masalah yang dihadapinya dengan sangat “rapi” dan terstruktur. Kemampuan
berfikir kritis juga akan membuat siswa mampu memiliki kemampuan adabtabilitas
dalam hidupnya. Pada tulisan ini, akan diungkap bagaimana kemampuan berfikir
kritis dalam pembelajaran matematika jika dilihat dari tiga unsur filsafat,
yaitu ontologi ,epistimologi, dan aksiologi.
PENDAHULUAN
Filsafat
adalah sebuah studi yang membahas tentang semua fenomena yang ada. Terkhusus
filsafat ilmu merupakan studi yang membahas tentang apa hakikat atau kedudukan
dari ilmu, bagaimana cara atau metode untuk bisa mendapatkan dan mempelajari
ilmu, serta apa manfaat dari ilmu tersebut.
Dalam
filsafat pembelajaran matematika, artinya yang dibahas adalah semua hal yang
terdapat dalam proses pembelajaran matematika. Baik dari segi gurunya,
siswanya, instansinya, sarana dan prasarananya, materi ajarnya, model
pembelajarannya, kemampuan-kemampuan dalam pembelajaran matematika, dan lain
sebagainya. Matematika dianggap sebagai ratu sekaligus sebagai pelayan bagi
ilmu-ilmu yang lain. Matematika dianggap sebagai ratunya ilmu karena matematika
merupakan sumber dari munculnya ilmu-ilmu yang lain. Begitupun matematika
dianggap sebagai pelayan ilmu karena pada penerapan bidang ilmu yang lain harus menerapkan ilmu matematika.
Misalnya dalam ilmu biologi pada pembahasan tentang hereditas, digunakan ilmu
matematika untuk menghitung perbandingan dan persentase antar kromosom. Pada
ilmu agama dalam pembahasan pembagian warisan juga diterapkan ilmu matematika
untuk menghitung perbandingan dan persentase warisan antar anak laki-laki dan
perempuan. Begitupun pada ilmu fisika, kimia, akuntansi, dan lain sebagainya.
Selain
dilihat dari kebermanfaatan ilmu matematika dalam bidang yang lain, matematika
yang dirancang dalam suatu proses pembelajaran matematika juga dapat
memfasilitasi pengembangan karakter-karakter penting pada diri siswa untuk
dapat bertahan hidup seiring dengan perkembangan jaman. Salah satu kemampuan matematika yang
dapat ditanamkan dan dikemabangkan dalam diri siswa melalui proses pembelajaran
matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Karena dengan kemampuan berfikir
kritis inilah siswa mampu melakukan pemecahan masalah yang tidak hanya terbatas
pada masalah matematika saja, melainkan lebih luas yaitu masalah dalam
kehidupan sehari-harinya. Kemampuan berfikir kritis pada dasarnya memiliki tiga
unsur, yaitu hakikat atau kedudukan berfikir kritis dalam pembelajaran
matematika, metode/cara/proses/tahap berfikir kritis dalam pembelajaran
matematika, dan manfaat atau nilai dari kemampuan berfikir kritis tersebut
dalam pembelajaran matematika dan lebih umum dalam kehidupan sehari-hari.
PEMBAHASAN
Defenisi dan Hakikat Kemampuan
Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika
Berfikir
kritis (dalam kurniawati: 109) memiliki kaitan yang erat dengan pembelajaran
matematika. Dimana berfikir kritis ini merupakan suatu aktivitas berfikir
tingkat tinggi atau berfikir kompleks yang melibatkan beberapa aspek didalam
prosesnya, yaitu merumuskan permasalahan, merancang strategi penyelesaian da
alternative strategi lainnya, evaluasi, dan sensitivitas terhadap masalah. Berfikir
kritis adalah jenis berfikir yang lebih tinggi dari sekedar menghapal materi
tetapi menggunakan dan memanipulasi bahan-bahan yang dipelajari dalam situasi
yang baru. Kemampuan berfikir kritis diperlukan agar peserta didik dapat
mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang
dinamis (keadaan yang terus berkembang) dan kompetitif (persaingan ketat). Ini
menunjukkan bahwa kemampuan berfikir kritis merupakan kemampuan yang sangat
penting untuk dimiliki oleh setiap individu agar bisa survive dalam semua
keadaan yang akan datang. Oleh sebab itu semua pihak yang terlibat dalam dunia
pendidikan dan proses pembelajaran harus mengetahui tentang betapa pentingnya
keberadaan dari kemampuan berfikir kritis ini, termasuk didalamnya mengenalkan
indikator-indikator dari kemampuan berfikir kritis dalam pembelajaran
matematika.
Menurut
Farib dkk (2019) Umumnya pembelajaran matematika bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir matematis siswa. Dalam pembelajaran matematika, selain
kemampuan berpikir matematis, ada beberapa kompetensi lainnya yang harus
dikuasai siswa dalam mempelajari matematika, seperti kemampuan siswa dalam
bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta mengaitkan konsep-konsep
matematika. National Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000) menetapkan
lima standar kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, antara lain
kemampuan komunikasi, kemampuan penalaran, kemampuan koneksi, kemampuan
representasi, serta kemampuan pemecahan masalah. Berpikir matematis dapat
digolongkan dalam dua jenis, yaitu berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat
tinggi. Berpikir tingkat tinggi pada Taksonomi Bloom termasuk pada tahap
menganalisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Dengan demikian, dapat
dipahami bahwa untuk mengembangkan kemampuan berpikir matematis, siswa juga
harus mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Menurut
Sulistiani (2016) ciri-ciri dari seseorang yang memiliki kemampuan berfikir
kritis adalah mampu berfikir secara rasional dalam menyikapi suatu
permasalahan, mampu membuat keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah,
dapat melakukan analisis, menorganisasikan, dan menggali informasi berdasarkan
fakta yang ada, serta mampu membuat kesimpulan dalam menyelesaikan masalah dan
membuat argumen yang benar dan sistematik. Kemampuan berfikir kritis juga dapat
dipahami sebagai suatu kegiatan penalaran yang berorientasi pada suatu proses
intelektual yang melibatkan pembentukan konsep, aplikasi, analisis, ataupun
penilaian daru suatu informasi untuk memecahkan suatu permasalahan.
Metode atau Proses Berfikir Kritis
dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran
matematika erat kaitannya dengan berfikir kritis. Kemampuan berfikir kritis
dapat ditumbuh kembangkan dalam proses pembelajaran matematika, dan kemampuan
matematika yang sudah tumbuh dan berkembang dalam diri siswa dapat diterapkan
atau dirasakan manfaatnya dalam melakukan pemecahan masalah matematika mapun
masalah diluar matematika.
Semua
hal yang ada dunia ini memiliki struktur, manusia bestruktur, dunia
berstruktur, pikiran berstruktur, dan lain sebagainya. Begitupun dengan
kemampuan bersfikir kritis juga memiliki struktur arau tahapan dalam prosesnya.
Perkins et al, (dalam Kurniawati, 2020) menyebutkan bahwa berfikir kritis
memeliki beberapa tahapan, yaitu tahap klarifikasi, tahap asesmen atau
penilaian, tahap penyimpulan, dan tahap menerapkan strategi/taktik. Dimana
lebih lanjut dijelaskan bahwa tahap klarifikasi adalah tahap dimana siswa akan
menyatakan, mengklarifikasi, menggambarkan atau mendefenisikan masalah. Tahap
asesmen atau penilaian adalah tahap dimana siswa akan mengemukakan fakta-fakta
terkait argumen yang akan dikemukakan, atau menghubungkan masalah satu dengan
masalah lain yang dalam filsafat tahap ini disebut dengan sintetis yaitu melihat
beberapa fenomena yang terjadi dan mengaitkannya serta melihat hukum sebab
akibat yang termuat didalam fenomena tersebut. Tahap penyimpulan adalah tahap
dimana siswa dapat menggeneralisasikan, menjelaskan dan membuat hpotesis atau
dugaan sementara tentang solusi yang akan diajukan untuk menjadi pemecahan
suatu masalah yang ada. Terakhir adalah tahap pengajuan strategi dan
mengevaluasi berbagai tindakan yang mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikan
suatu masalah.
Berfikir
kritis dalam matematika erat hubungannya dengan cara berfikir siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan matematikanya. Sehingga ada beberapa indikator
kemampuan berfikir kritis yang dikemukakan oleh Facione (dalam Kurniawati,
2020) Interpretation, yaitu keterampilan siswa yang dapat memahami dan
mengekspresikan makna atau arti dari suatu masalah. Analysis adalah
keterampilan siswa dapat mengidentifikasikan dan menyimpulkan hubungan antar
penyataan, pertanyaan, konsep, dan bentuk yang lain. Evaluation adalah
keterampilan dimana siswa mampu mengakses kredibilitas (kepercayaan) dari suatu
pernyataan/representasi serta mampu mengakses secara logika hubungan antar
pernyataan, deskripsi, pernyataan, maupun konsep. Inference yaitu siswa mampu
mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk dapat menarik kesimpulan.
Explanation adalah siswa dapat menetapkan dan memberikan alasan secara logis
berdasarkan hasil yang diperolehnya. Self regulation adalah siswa dapat memonitoring aktivitas
kognitif seseorang, unsur-unsur yang digunakan dalam menyelesaikan masalah,
khususnya dalam menerapkan keterampilan dalam menganalisis dan mengevaluasi. Menurut
Afandi (2016) berdasarkan penelitiannya dilapangan, bahwa kemampuan berfikir
kritis setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu berfikir kritis dengan kategori
tinggi, sedang, dan rendah.
Manfaat atau Kegunaan Kemampuan Berfikir Kritis dalam
Pembelajaran Matematika
Telah
dikatakan diawal bahwa kemampuan berfikir kritis itu dapat diartikan sebagai
kegiatan penalaran yang melibatkan intelektual dalam pembentukan konsep,
aplikasi, analisis, maupun penilaian dari suatu informasi yang tujuannya adalah mencapai solusi dari
suatu permasalahan yang disajikan atau permasalahan yang sedang dihadapi
sekarang ataupun akan datang. Afandi (2016) mengatakan bahwa banyak sekali
manfaat yang diperoleh siswa dengan kemampuan berfikir kritis yang dimilikinya,
yaitu membuat siswa mampu menghadapi perkembangan IPTEK dunia dan menyelesaikan
masalah-masalah yang timbul karenanya. Kemudian, pentinya kemampuan berfikir
kritis dalam pembelajaran matematika untuk menghadapi tantangan MEA (Masyarakat
Ekonomi Asean). Belajar matematika sama halnya belajar logika, karena kedudukan
matematika dalam pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar atau ilmu alat”.
Sehingga untuk dapat mempelajari sains, teknologi, atau ilmu lainya haruslah
dapat menguasai ilmu dasar yaitu matematika. Menyadari akan pentingnya
matematika dalam kehidupan khususnya dalam dunia kerja, maka dalam mempelajari
dan menyelesaikan suatu permasalahan matematika harus mempunyai keterampilan
yang khusus.
Peran
dunia pendidikan sangat dibutuhkan dalam menghadapi persaingan di era MEA. Pendidikan
tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pembentukan MEA dan dalam
mempersiapkan masyarakat Indonesia untuk menghadapi integrasi regional.
Pendidikan yang berkualitas dapat dilihat dari output yang dihasilkan yaitu
siswa-siswa yang tidak hanya unggul di bidang akademik (hard skill), tetapi
juga unggul dalam soft skill, sehingga akan menjadi pribadi yang berkompeten,
mandiri, kerja keras dan professional. Secara garis besar, peran pendidikan
dalam menghadapi MEA diantaranya : (1) Pendidikan sebagai sumber ilmu
pengetahuan. Pendidikan memberikan bekal ilmu pengetahuan bagi siswa. Ilmu
pengetahuan memberikan wawasan yang luas bagi siswa yang nantinya berguna dalam
memecahkan masalah dan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuannya. (2)
Pendidikan memberikan keterampilan. Pendidikan merupakan salah satu alat untuk
mengajarkan keterampilan pada siswa baik disekolah formal, maupun non formal.
MEA menuntut masyarakan Indonesia memiliki keterampilan yang mumpuni diberbagai
bidang ilmu, dengan tujuan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri hingga
nantinya bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di ASEAN. (3)
Pendidikan sebagai sarana melatih mental, tanggung jawab, dan
kedisiplinan.Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menanamkan pendidikan
karakter dalam pembelajaran di sekolah. Mental, tanggung jawab, dan
kedisiplinan yang tinggi menjadi unsur penting yang harus dikembangkan di era
pendidikan saat ini. (Sulistiani,2016)
METODE
Metode
yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah menggunakan metode studi
literature atau studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah proses pengumpulan
informasi dari berbagai sumber yang ada di perpustakaan. Studi kepustakaan
merupakan proses mempelajari referensi dari hasi penelitian sebelumnya untuk
digunakan sebagai landasan teori. Studi kepustakaan merupakan teknik yang
dilakukan dengan melakukan kajian dari buku, artikel, majalah, media teknologi
informasi, dan lain sebagainya. Referensi yang sudah dikumpulkan digunakan
untuk memilih topik yang akan dibahas. Dalam studi kepustakaan juga dilakukan
sintesis yaitu mendeskripsikan kembali dengan bahasa sendiri ataupun teori dari
para ahli yang termuat dalam referensi yang dikumpulkan. Penyususnan artikel
ini menggunakan pengumpulan referensi dari media jurnal-jurnal pendidikan
matematika.
KESIMPULAN
Salah
satu “yang ada” yang meliputi pembelajaran matematika adalah kemampuan berfikir
kritis dalam pembelajaran matematika. Kemampuan berfikir kritis ini dapat
diperoleh oleh siswa dengan aktif mengikuti proses pembelajaran matematika yang
telah dirancang oleh guru. Kemampuan berfikir kritis hakikatnya adalah sebagai
proses berfikir tingkat tinggi yang komplek yang melibatkan aspek intelektual
untuk membangun sebuah pengetahuan matematika, dan pengetahuan itu akan
digunakan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi, baik permasalahan
matematika maupun permasalahan diluar matematika, dan untuk mempu survive dan
mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang akan datang. Dalam
proses berfikir kritis akan melibatkan beberapa tahap antara lain adalah tahap
klarifikasi, assessment, penyimpulan, dan penerapan strategi atau taktik untuk
memperoleh solusi dari suatu permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistiani, Eny. dkk. 2016. Pentingnya
Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika untuk Menghadapi Tantangan MEA. Seminar Nasional Matematika X Universitas
Negeri Semarang 2016.
Kurniawati, Dewi. dkk. 2020. Pentingnya
Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Matematika. PeTeKa (Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran), Volume 3 Nomor 2 Tahun 2020 DOI
: 10.31604/ptk.v3i2.107-114
Afandi, Ahmad. 2016. Berpikir Kritis
Siswa Smp Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Kemampuan Matematika.
Jurnal Gammath, Volume I Nomor 2, September 2016.
Farib, P., Ikhsan, M., & Subianto,
M. (2019). Proses berpikir kritis matematis siswa sekolah menengah pertama
melalui discovery learning. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 6(1), 99-117.
doi:https://doi.org/10.21831/jrpm.v6i1.21396
Komentar
Posting Komentar