REVISI KEDUA TUGAS G FILSAFAT (MENGUNGKAP FILSAFAT DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA) DENGAN DOSEN PENGAMPU Prof. Dr. Marsigit, M.A
MENGUNGKAP NILAI-NILAI FILOSOFI
DALAM BERFIKIR KRITIS YANG MERUPAKAN BAGIAN DARI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Diajukan
untuk memenuhi tugas akhir matakuliah Filsafat Ilmu
Dengan
dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A
Oleh:
Nur
Fitriani
20309251004
PROGRAM STUDI S2 PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2021
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum
Warahmatullahi wabarakatuh
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memampukan kami dalam menyelesaiakan makalah ini
yang berjudul “Mengungkap Nilai-Nilai Filosofis dalam Berfikir Kritis yang Merupakan
Bagian dari Pembelajaran Matematika. Tanpa bantuan Allah pasti kami
tidak akan mampu untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat dan salam selalu kita curahkan untuk
Nabi Allah Rasulullah SAW yang sangat kita cintai, kita rindukan, dan kita harapkan
syafaatnya di akhirat nanti.
Tidak
lupa juga penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah
Filsafat Ilmu yaitu Prof. Dr. Marsigit, M.A yang telah memberi dukungan secara
moril dan mengajar kami dengan sangat baik sehingga kami mampu memahami konteks
filsafat dalam pembelajaran matematika dan akhirnya kami mampu membuat karya
ilmiah berupa makalah ini.
Penulis
sangat menyadari bahwa makalah ini masih sangat banyak kekurangan di dalamnya,
masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik serta saran yang membangun dari bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A dan apara
pembaca untuk perbaikan isi karya ilmiah yang kami buat kedepannya. Demikian
penulis mohon maaf atas kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam buku ini.
Semoga
makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi para pembaca, sekian dan terima
kasih.
Samarinda,
Juni 2021
Nur
Fitriani
DAFTAR ISI
HALAMAN
DEPAN...................................................................... 1
KATA
PENGANTAR.................................................................... 2
DAFTAR
ISI................................................................................... 3
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah........................................................ 4
B.
Rumusan Masalah................................................................... 7
C.
Tujuan Masalah....................................................................... 7
D.
Manfaat Penulisan................................................................... 8
E.
Metode Penulisan.................................................................... 8
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Defenisi dan Hakikat/Ontologis Kemampuan
Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika................................................................................................. 10
B.
Metode/Epistimologi atau Proses Berfikir
Kritis dalam Pembelajaran Matematika 16
C.
Manfaat/Aksiologi atau Kegunaan
Kemampuan Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika............................................................................... 21
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan............................................................................... 25
B.
Saran......................................................................................... 27
DAFTAR
PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Berfikir
kritis merupakan sedikit bagian dari keseluruhan aspek yang terlibat dalam
proses pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika tidak dapat dipisahkan
dari kemampuan berfikir kritis. Oleh sebab itulah, dalam tulisan ilmiah ini
saya mengambil topik tentang kemampuan berfikir
kritis dengan melihat dari unsur ontology, epistimologis, dan aksiologisnya
yang merupakan bagian dari keseluruhan dalam mengungkap filsafat dalam pembelajaran matematika yang dilakukan
disekolah.
Filsafat
adalah sebuah studi yang membahas tentang semua fenomena yang ada. Terkhusus
filsafat ilmu merupakan studi yang membahas tentang apa hakikat atau kedudukan
dari ilmu, bagaimana cara atau metode untuk bisa mendapatkan dan mempelajari
ilmu, serta apa manfaat dari ilmu tersebut jika dilihat dari etik dan estetikanya.
Dalam
filsafat pembelajaran matematika, artinya yang dibahas adalah semua hal yang
terdapat dalam proses pembelajaran matematika. Baik dari segi gurunya,
siswanya, instansinya, sarana dan prasarananya, materi ajarnya, model
pembelajarannya, kemampuan-kemampuan dalam pembelajaran matematika, dan lain
sebagainya. Matematika dianggap sebagai ratu sekaligus sebagai pelayan bagi
ilmu-ilmu yang lain. Matematika dianggap sebagai ratunya ilmu karena matematika
merupakan sumber dari munculnya ilmu-ilmu yang lain. Begitupun matematika
dianggap sebagai pelayan ilmu karena pada penerapan bidang ilmu yang lain harus menerapkan ilmu matematika.
Misalnya dalam ilmu biologi pada pembahasan tentang hereditas, digunakan ilmu
matematika untuk menghitung perbandingan dan persentase antar kromosom. Pada
ilmu agama dalam pembahasan pembagian warisan juga diterapkan ilmu matematika
untuk menghitung perbandingan dan persentase warisan antar anak laki-laki dan
perempuan. Begitupun pada ilmu fisika, kimia, akuntansi, dan lain sebagainya.
Inilah yang disebut sebagai aksiologisnya
epistimologis berfikir kritis, artinya kebermanfaat berfikir kritis dalam
penerapannya dalam ilmu matematika dan disiplin ilmu yang lain.
Selain
dilihat dari kebermanfaatan ilmu matematika dalam bidang yang lain, matematika
yang dirancang dalam suatu proses pembelajaran matematika juga dapat
memfasilitasi pengembangan karakter-karakter penting pada diri siswa untuk
dapat bertahan hidup seiring dengan perkembangan jaman (unsur aksiologis dari berfikir kritis). Salah satu kemampuan
matematika yang dapat ditanamkan dan dikemabangkan dalam diri siswa melalui
proses pembelajaran matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Karena dengan
kemampuan berfikir kritis inilah siswa mampu melakukan pemecahan masalah yang
tidak hanya terbatas pada masalah matematika saja, melainkan lebih luas yaitu
masalah dalam kehidupan sehari-harinya. Inilah yang dimaksud bahwa dalam filsafat dikenal dua metode,
yaitu intensi dan ekstensi. Intensi artinya mendalam dan meninggi, dalam hal ini dimaksud
semakin mendalami permasalahan dengan berfikir kritis, siswa juga semakin
meninggikan kualitas dari pemecahan masalah atau solusi yang diberikannya. Ekstensi artinya memperluas sekaligus
mempersempit, dalam hal ini berarti dengan berfikir kritis siswa tidak
hanya mampu menyelesaiakan permsalahan matematika saja, tapi juga dapat
menyelesaikan permasalahan dalam disiplin ilmu yang lain, dan dalam kehidupan
nyata yang sangat luas dan kompleks. Kemampuan berfikir kritis pada dasarnya
memiliki tiga unsur, yaitu hakikat atau
kedudukan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika, metode/cara/proses/tahap berfikir
kritis dalam pembelajaran matematika, dan manfaat
atau nilai dari kemampuan berfikir kritis tersebut dalam pembelajaran
matematika dan lebih umum dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
filsafat juga dikenal forma dan substan
atau wadah dan isi. Semua hal yang ada dan yang mungkin ada dalam
pikiran manusia, bisa menjadi wadah sekaligus
isi. Karena tiadalah wadah tanpa isi, dan tiadalah isi tanpa wadah. Dalam
hal ini, jika kita menganggap pembelajaran matematika sebagai wadah, maka isi
dari pembelajaran matematika salah satunya adalah kemampuan berfikir kritis.
Namun berfikir kritis tidak menjadi satu-satunya hal yang esensial dalam proses
pembelajaran matematika siswa. Namun tulisan ini spesifik membahas tentang
mengungkap unsur-unsur filsafat dalam pembelajaran matematika yang ditinjau
dari kemampuan berfikir kritis siswa. Jika kita memandang kemampuan berfikir
kritis sebagai wadahnya, maka isi dari berfikir kritis adalah pemecahan masalah
atau solusi-solusi yang mampu diberikan siswa.
Semua
hal yang ada dan yang mungkin ada dipikiran manusia juga memiliki struktur. Struktur ini dibedakan
menjadi dua, yaitu struktur tetap
dan struktur berubah/bergerak.
Struktur dalam proses pembelajaran matematika adalah adalanya model-model
pembelajaran yang di dalamnya termuat sintaks-sintaks
atau langkah-langkah pembelajaran yang melibatkan guru, siswa, kompetensi atau
bahan ajar, media pembelajaran. Dalam model pembelajaran yang dipilih atau
dirancang oleh guru/pengajar, memiliki tujuan-tujuan tersendiri. Salah satu
dari banyaknya tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika jika dilihat
dari aspek afektifnya adalah tumbuh kembangnya kemampuan-kemampuan matematis
siswa yang salah satunya adalah kemampuan berfikir kritis.
B.
Rumusan
Masalah
Dari
pemaparan latar belakang tersebut, ada beberapa rumusan masalah dalam makalah
ini, yaitu:
1. Apa
ontologi/hakikat berfikir kritis dalam pembelajaran matematika?
2. Bagaimana
epistimologi/proses berfikir kritis dalam pembelajaran matematika?
3. Bagaimana
aksiologis atau kebermanfaatan berfikir kritis?
C.
Tujuan
Masalah
Dari
rumusan masalah yang ada, maka ada beberapa tujuan masalah dalam penulisan
makalah ini, yaitu:
1. Mengetahui
ontology/hakikat berfikir kritis dalam pembelajaran matematika.
2. Mengetahui
bagaimana epistimologi/proses berfikir kritis dalam pembelajaran matematika.
3. Bagaimana
aksiologis atau kebermanfaatan dari kemampuan berfikir kritis?
D.
Manfaat
Penulisan
Penulisan
makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, diantaranya
adalah:
1. Menjadi
bahan bacaan bagi para mahasiswa/mahasiswi yang sedang mengambil mata kuliah
filsafat ilmu.
2. Sebagai
referensi bagi para guru/calon guru matematika dalam mengetahui hal-hal yang
berkaitan tentang pembelajaran matematika, khususnya kemampuan berfikir kritis.
3. Bagi
penulis sendiri bermanfaat untuk proses belajar mempelajari filsafat dan
latihan dalam menulis karya ilmiah.
E.
Metode
Penulisan
Metode yang digunakan
dalam penulisan makalah ini adalah menggunakan metode studi literature atau
studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah proses pengumpulan informasi dari
berbagai sumber yang ada di perpustakaan. Studi kepustakaan merupakan proses
mempelajari berbagai referensi baik dari buku cetak/elektronik, karya ilmiah,
maupun dari hasi penelitian sebelumnya untuk digunakan sebagai landasan teori.
Studi kepustakaan merupakan teknik yang dilakukan dengan melakukan kajian dari
buku, artikel, majalah, media teknologi informasi, dan lain sebagainya.
Referensi yang sudah dikumpulkan digunakan untuk memilih topik yang akan
dibahas. Dalam studi kepustakaan juga dilakukan sintesis yaitu mendeskripsikan
kembali dengan bahasa sendiri ataupun teori dari para ahli yang termuat dalam
referensi yang dikumpulkan. Penyususnan artikel ini menggunakan pengumpulan
referensi dari media jurnal-jurnal pendidikan matematika.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Defenisi
dan Hakikat Kemampuan Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika
Para
konstruktivis berdiri dalam filsafat matematika dapat ditelusuri kembali setidaknya
oleh Kant dan Kronecker. Salah satu program para konstruktivis adalah
merekonstruksi pengetahuan matematika (dan mereformasi praktek matematika)
dalam rangka untuk menjaga dari kehilangan makna, dan dari kontradiksi (Ernest,
2004)
Berfikir
kritis (dalam kurniawati: 109) memiliki kaitan yang erat dengan pembelajaran
matematika. Dimana berfikir kritis ini merupakan suatu aktivitas atau proses (logos) berfikir tingkat tinggi atau
berfikir kompleks (ekstensi) yang
melibatkan beberapa aspek didalam prosesnya, yaitu merumuskan permasalahan,
merancang strategi penyelesaian dan alternative strategi lainnya (epistimologis),
evaluasi, dan sensitivitas terhadap masalah. Berfikir kritis adalah jenis
berfikir yang lebih tinggi dari sekedar menghapal materi tetapi menggunakan dan
memanipulasi bahan-bahan yang dipelajari dalam situasi yang baru. Kemampuan
berfikir kritis diperlukan agar peserta didik dapat mengelola dan memanfaatkan
informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang dinamis (keadaan yang terus
berkembang) dan kompetitif (persaingan ketat). Ini menunjukkan bahwa kemampuan
berfikir kritis merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh
setiap individu agar bisa survive dalam semua keadaan yang akan datang. Oleh
sebab itu semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan proses
pembelajaran harus mengetahui tentang betapa pentingnya keberadaan dari kemampuan
berfikir kritis ini, termasuk didalamnya mengenalkan indikator-indikator dari
kemampuan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika.
Jika
dilihat dari ontologisnya yaitu dari
hakikat dan kedudukan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika, berfikir
kritis terletak didalam kemampuan-kemampuan matematis, lebih spesifik lagi
dapat dikatakan kemampuan berfikir kritis terletak di atas dari berfikir
kreatif dan berfikir inovatif. Karena siswa akan dapat memiliki kemampuan
berfikir kreatif dan berfikir inovatif mana kala siswa telah mampu kritis dalam
melihat permasalahan yang disajikan dari aspek dan berbagai sudut pandang.
Woozley
(dalam Ernest 2004) mengatakan pengetahuan diklasifikasikan berdasarkan pada
pernyataan tersebut. Pengetahuan apriori
terdiri dari proposisi hanya berdasarkan alasan saja, tanpa pengamatan dari
dunia. Alasannya terdiri dari penggunaan logika
deduktif dan makna istilah, biasanya dapat ditemukan dalam definisi.
Sebaliknya, empiris atau pengetahuan
posteriori terdiri dari proposisi yang menjelaskan berdasarkan pengalaman,
yaitu, dengan pengamatan dunia. Pengetahuan matematika diklasifikasikan sebagai
pengetahuan priori, karena terdiri dari proposisi yang menjelaskan atas dasar
alasan saja. Alasannya, termasuk logika deduktif dan yang digunakan sebagai
definisi, hubungannya dengan aksioma matematika atau postulat, adalah sebagai
dasar untuk menyimpulkan pengetahuan matematika. Dengan demikian, dapat
dikatakan3 bahwa pengetahuan dasar matematika yaitu dasar untuk menyatakan
kebenaran proposisi matematika, yang terdiri dari bukti deduktif.
Dalam
bukunya Immanuel Kant ( 2010 ), Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai
berikut:
1.
Suatu pernyataan bersifat analitik, jika
predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu
bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek
‘bola’.
2.
Suatu pernyataan bersifat tidak
analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang
subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai
pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”.
3.
Suatu pernyataan disebut benar secara a
priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi
pada pengalaman.
4.
Suatu pernyataan disebut benar secara a
posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi
pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan
bukti empiris.
Seluruh
pernyataan analitik bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika
pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini
tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya. Seluruh pernyataan
a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat
informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada
pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka
pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada
subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’. Kemudian yang
menjadi pertanyaan adalah, adakah pernyataan sintetik yang bersifat a priori?
Kant berpendapat bahwa ada pernyataan sintetik yang bersifat a priori, misalnya
pernyataan kausalitas.
Kant
berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem
a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu
berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini
bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat.
David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a
priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru
merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada
beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi
penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip
Verifikasi?”). Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang
esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik
merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di
sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut
sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran
dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara
pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui
Menurut
Farib dkk (2019) Umumnya pembelajaran matematika bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir matematis siswa. Dalam pembelajaran matematika, selain
kemampuan berpikir matematis, ada beberapa kompetensi lainnya yang harus
dikuasai siswa dalam mempelajari matematika, seperti kemampuan siswa dalam
bernalar, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta mengaitkan konsep-konsep
matematika atau dalam ilmu psikologi pembelajaran matematika disebut dengan pembentukan skema, namun jika dilihat
dari ilmu filsafat hal ini bisa dikatakan sebagai analitik aposteriori. Kenapa dikatakan analitik, karena dalam prosesnya siswa membuat sebuah perencanaan
pemecahan masalah yang diawali dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang ada dan
yang kurang, dan membuat dugaan sementara atas alternative solusi yang
dirancang oleh siswa. Kebenaran logika dan matematika memiliki sifat analitis,
benar karena ada hubungan nilai dari makna istilah yang digunakan. Dikatakan
pula sebagai aposteriori karena
apostteriori berarti paham setelah melihat, sedangkan hipotesis adalah “dugaan
sementara”. Dugaan artinya belum yakin, kenapa siswa belum yakin itu karena
siswa belum melihat bukti dari solusi tersebut benar-benar dapat menyelesaikan
permasalahan yang disajikan oleg guru/pengajar. Siswa akan benar-benar paham
dan yakin setelah solusi-solusi yang dirancang dengan menggunakan kemampuan
berfikir kritis siswa ini dapat dibuktikan kebenarannya menggunakan pembuktian
matematik.
National
Council of Teachers of Mathematics (NCTM, 2000) menetapkan lima standar
kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, antara lain kemampuan
komunikasi, kemampuan penalaran, kemampuan koneksi, kemampuan representasi,
serta kemampuan pemecahan masalah. Berpikir matematis dapat digolongkan dalam
dua jenis, yaitu berpikir tingkat rendah dan berpikir tingkat tinggi. Berpikir
tingkat tinggi pada Taksonomi Bloom termasuk pada tahap menganalisis (C4),
sintesis (C5), dan evaluasi (C6). Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir matematis, siswa juga harus mengembangkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi atau dengan kata lain kemampuan berfikir
kritis. Hal ini semua dapat dipandang
sebagai isi dari pembelajaran matematika jika memang pembelajaran
matematika kita tempatkan sebagai wadah
atau forma nya.
Menurut
Sulistiani (2016) ciri-ciri dari seseorang yang memiliki kemampuan berfikir
kritis adalah mampu berfikir secara rasional dalam menyikapi suatu
permasalahan, mampu membuat keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah,
dapat melakukan analisis, menorganisasikan, dan menggali informasi berdasarkan
fakta yang ada, serta mampu membuat kesimpulan dalam menyelesaikan masalah dan
membuat argumen yang benar dan sistematik hal ini disebut dengan sintesis. Kemampuan berfikir kritis
juga dapat dipahami sebagai suatu kegiatan (dalam hal ini dapat dikatakan
sebagai kegiatan yang menghasilkan pengalaman maka ini dapat dipandang sebagai empirisisme) penalaran yang
berorientasi pada suatu proses intelektual yang melibatkan pembentukan konsep,
aplikasi, analisis, ataupun penilaian dari suatu informasi untuk memecahkan
suatu permasalahan.
B.
Metode
atau Proses Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika
Pembelajaran
matematika erat kaitannya dengan berfikir kritis. Para ahli matematika dahulu
beranggapan bahwa pandangan matematika klasik mungkin tidak aman, untuk itu
perlu dibangun kembali dengan mengkonstruktif metode dan penalaran. Kemampuan
berfikir kritis dapat ditumbuh kembangkan dalam proses pembelajaran matematika
karena telah dijelaskan diawal bahwa dalam hal ini pembelajaran matematika
dipandang sebagai wadah atau forma maka sudah seharunya proses pembelajaran
matematika yang dirancang dan diterapkan oleh guru menjadi wadah untuk memfasilitasi siswa dalam memperoleh
bukan hanya sekedar kemampuan dari aspek kognitif, tapi juga dari aspek
psikomotorik dan afektifnya, dan kemampuan matematika yang sudah tumbuh dan
berkembang dalam diri siswa dapat diterapkan atau dirasakan manfaatnya dalam
melakukan pemecahan masalah matematika mapun masalah diluar matematika.
Semua
hal yang ada dunia ini memiliki struktur, manusia bestruktur, dunia
berstruktur, pikiran berstruktur, dan lain sebagainya termasuk proses
pembelajaran matematika dan konten matematika. Begitupun dengan kemampuan
bersfikir kritis juga memiliki struktur arau tahapan dalam prosesnya. Perkins
et al, (dalam Kurniawati, 2020) menyebutkan bahwa berfikir kritis memeliki
beberapa tahapan, yaitu tahap klarifikasi, tahap asesmen atau penilaian, tahap
penyimpulan, dan tahap menerapkan strategi/taktik. Dimana lebih lanjut
dijelaskan bahwa tahap klarifikasi adalah tahap dimana siswa akan menyatakan,
mengklarifikasi, menggambarkan atau mendefenisikan masalah. Tahap asesmen atau
penilaian adalah tahap dimana siswa akan mengemukakan fakta-fakta terkait
argumen yang akan dikemukakan, atau menghubungkan masalah satu dengan masalah
lain yang dalam filsafat tahap ini disebut dengan sintetis yaitu melihat
beberapa fenomena yang terjadi dan mengaitkannya serta melihat hukum sebab
akibat yang termuat didalam fenomena tersebut. Tahap penyimpulan adalah tahap
dimana siswa dapat menggeneralisasikan, menjelaskan dan membuat hpotesis atau
dugaan sementara tentang solusi yang akan diajukan untuk menjadi pemecahan suatu
masalah yang ada. Terakhir adalah tahap pengajuan strategi dan mengevaluasi
berbagai tindakan yang mungkin dapat digunakan untuk menyelesaikan suatu
masalah. Inilah yang disebut dengan epistimologis
dari berfikir ktiris.
Platonisme
adalah pandangan bahwa objek matematika memiliki eksistensi objektif yang nyata
dalam beberapa wilayah ideal. Pandangan ini berasal dari Plato dan dapat
dilihat dalam tulisan penganut aliran Logis seperti Frege dan Rusell, dan juga
Cantor, Bernays (1934), Hardy (1967) dan Godel (1964).Penganut aliran Platonis
berpendapat bahwa objek dan struktur matematika memiliki eksistensi nyata yang
terpisah dari kemanusiaan dan oleh karena itu matematika adalah proses untuk menemukan hubungan yang ada dibaliknya.
Menurut penganut aliran Platonis pengetahuan matematika terdiri dari penjelasan
objek-objek dan hubungan dengan struktur yang menghubungkan mereka (ernest,
2004).
Dalam
buku Immanuel Kant yang Terjemahan Bahasa Inggris dari kata ‘Verstand’ dalam
Bahasa Jerman adalah ‘Understanding’. Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
secara kasar berarti pemahaman. Kant menggunakan kata ini untuk mengungkapkan
penggunaan akal budi dan konsep dalam proses mengetahui. Kant berpendapat bahwa
kita tidak dapat terus menerus meragukan pengetahuan kita. Tugas yang dirasa
‘mendesak’ bagi para filsuf adalah mengeksplorasi apa saja yang terlibat dalam
proses mengetahui. Melalui Critique of Pure Reason, Kant hendak mengeksplorasi
kondisi – kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan
ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant
berpendapat bahwa akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh
: gagasan pikiran setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh
peristiwa di semesta saling berkaitan. Hal ini bagi Kant tidak perlu dibuktikan
secara empiris karena pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas
dalam diri sendiri adalah benar.
Deduksi
transendental merupakan metode yang menjadi karakteristik argumen – argumen
Kant dalam Critique of Pure Reason. Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu
yang berada di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep
transendental, Kant hendak menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui. Bagi
Kant, kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda. Deduksi
transendental merupakan metode deduksi logika dengan dua buah premis,
sebagaimana berikut ini:
1. Hanya jika A maka B,
2. B telah kita alami
maka,
3. A
Kant
menggunakan silogisme ini untuk menyimpulkan kondisi yang diperlukan untuk
mengetahui. Premis 2 menunjukkan apa yang telah kita alami, premis 1 adalah
kondisi yang memungkinkan kita memiliki pengalaman itu, Karena keduanya adalah
benar, elemen transendental A pada langkah 3 harus mengikuti. Kant menggunakan
metode ini untuk mengetahui hakikat pengetahuan, atau kondisi pra – mengetahui.
Penting untuk dipahami, bahwa metode yang digunakan oleh Kant adalah metode
deduktif yang tidak melibatkan analisis psikologi empiris yang kerap dipakai
dalam dunia moderen. Karena Kant dalam Critique of Pure Reason menyelidiki
tentang fakultas pemahaman manusia, banyak yang menduga bahwa karya ini
berbicara tentang psikologi transendental, tetapi hal ini menyesatkan.
Contoh
penerapan metode deduksi transendental Kant adalah keharusan kesatuan diri
sepanjang mengalami segala sesuatu. Artinya, hanya pada satu pengamat yang
mengalami pengalaman berkesinambungan, maka pengamatan dapat dilakukan. Mari
kita ambil contoh tentang pengalaman sementara kita dalam menikmati minuman beralkohol
tuak. Silogismenya berbentuk:
1. Hanya jika terdapat
kesatuan diri di sepanjang waktu maka saya dapat menikmati tuak,
2. Saya pernah
menikmati tuak, maka
3. Terdapat kesatuan
diri saya sepanjang waktu.
Berfikir
kritis dalam matematika erat hubungannya dengan cara berfikir siswa untuk
mengkonstruksi (masuk dalam aliran
konstruktivism) pengetahuan matematikanya. Sehingga ada beberapa indikator
kemampuan berfikir kritis yang dikemukakan oleh Facione (dalam Kurniawati,
2020) Interpretation, yaitu keterampilan siswa yang dapat memahami dan
mengekspresikan makna atau arti dari suatu masalah. Analysis adalah
keterampilan siswa dapat mengidentifikasikan dan menyimpulkan hubungan antar
penyataan, pertanyaan, konsep, dan bentuk yang lain. Evaluation adalah keterampilan
dimana siswa mampu mengakses kredibilitas (kepercayaan) dari suatu
pernyataan/representasi serta mampu mengakses secara logika hubungan antar
pernyataan, deskripsi, pernyataan, maupun konsep. Inference yaitu siswa mampu
mendapatkan unsur-unsur yang dibutuhkan untuk dapat menarik kesimpulan.
Explanation adalah siswa dapat menetapkan (dapat
dikatakan sebagai determin) dan memberikan alasan secara logis berdasarkan
hasil yang diperolehnya. Self regulation
adalah siswa dapat memonitoring aktivitas kognitif seseorang,
unsur-unsur yang digunakan dalam menyelesaikan masalah, khususnya dalam
menerapkan keterampilan dalam menganalisis dan mengevaluasi. Menurut Afandi
(2016) berdasarkan penelitiannya dilapangan, bahwa kemampuan berfikir kritis
setidaknya memiliki tiga kategori, yaitu berfikir kritis dengan kategori
tinggi, sedang, dan rendah, inilah yang dimaksud dengan struktur dari kemampuan
berfikir kritis.
C.
Manfaat
atau Kegunaan Kemampuan Berfikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika
Telah dikatakan diawal bahwa kemampuan
berfikir kritis itu dapat diartikan sebagai kegiatan penalaran yang melibatkan
intelektual dalam pembentukan konsep, aplikasi, analisis, maupun penilaian dari
suatu informasi yang tujuannya adalah mencapai solusi dari suatu permasalahan yang
disajikan atau permasalahan yang sedang dihadapi sekarang ataupun akan datang.
Immanuel Kant dalam bukunya membagi
estetika menjadi dua bagian, yaitu aspek intuitif dan aspek konseptual.
Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai ‘data mentah’ yang hanya
mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi. Kant juga
memberikan pengertiannya yang khas dalam memahami kata ‘intuisi’. Alih – alih
menggunakan pengertian umum—yang berarti merupakan pengetahuan naluriah—Kant
mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari
pengalaman tanpa melalui konseptualisasi. Dalam hal ini, penulis menggunakan
istilah ‘Intuisi’ sebagai terjemahan Bahasa Indonesia dari ‘Intuition’ dalam
Bahasa Inggris (terjemahan Norman Kemp Smith terhadap istilah Jerman,
‘Anschauung’), alih – alih menggunakan istilah ‘pengalaman/pengetahuan
langsung’ yang menurut penulis kurang pas.
Afandi (2016) mengatakan bahwa banyak
sekali manfaat (dipandang dari unsur aksiologisnya yaitu etik dan estetika
berfikir kritis) yang diperoleh siswa dengan kemampuan berfikir kritis yang
dimilikinya, yaitu membuat siswa mampu menghadapi perkembangan IPTEK dunia dan
menyelesaikan masalah-masalah yang timbul karenanya. Kemudian, pentinya
kemampuan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika untuk menghadapi
tantangan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Belajar matematika sama halnya belajar
logika (dapat pula dikatakan sebagai aliran rasionalisme), karena kedudukan
matematika dalam pengetahuan adalah sebagai ilmu dasar (dapat dipandang sebagai
foundamentalisism) atau ilmu alat/media”. Sehingga untuk dapat mempelajari
sains, teknologi, atau ilmu lainya haruslah dapat menguasai ilmu dasar yaitu
matematika. Menyadari akan pentingnya matematika dalam kehidupan khususnya dalam
dunia kerja, maka dalam mempelajari dan menyelesaikan suatu permasalahan
matematika harus mempunyai keterampilan yang khusus. Sebagai salah satu contoh
manfaat dari kemampuan berfikir kritis adalah peran dunia pendidikan sangat
dibutuhkan dalam menghadapi persaingan di era MEA. Pendidikan tinggi memiliki
peran penting dalam mendukung pembentukan MEA dan dalam mempersiapkan
masyarakat Indonesia untuk menghadapi integrasi regional. Pendidikan yang
berkualitas dapat dilihat dari output yang dihasilkan yaitu siswa-siswa yang
tidak hanya unggul di bidang akademik (hard skill), tetapi juga unggul dalam
soft skill, sehingga akan menjadi pribadi yang berkompeten, mandiri, kerja
keras dan professional. Secara garis besar, peran pendidikan dalam menghadapi
MEA diantaranya :
1.
Pendidikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Pendidikan memberikan bekal ilmu pengetahuan bagi siswa. Ilmu pengetahuan
memberikan wawasan yang luas bagi siswa yang nantinya berguna dalam memecahkan
masalah dan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuannya.
2.
Pendidikan memberikan keterampilan.
Pendidikan merupakan salah satu alat untuk mengajarkan keterampilan pada siswa
baik disekolah formal, maupun non formal. MEA menuntut masyarakan Indonesia
memiliki keterampilan yang mumpuni diberbagai bidang ilmu, dengan tujuan mampu
menciptakan lapangan pekerjaan sendiri hingga nantinya bisa bersaing dengan
masyarakat dari negara lain di ASEAN.
3.
Pendidikan sebagai sarana melatih
mental, tanggung jawab, dan kedisiplinan.Pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya
menanamkan pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah. Mental, tanggung
jawab, dan kedisiplinan yang tinggi menjadi unsur penting yang harus
dikembangkan di era pendidikan saat ini.
(Sulistiani,2016)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Salah
satu “yang ada” dan “yang mungkin ada” dalam pembelajaran matematika adalah
kemampuan berfikir kritis dalam pembelajaran matematika. Kemampuan berfikir
kritis ini dapat diperoleh oleh siswa dengan aktif mengikuti proses
pembelajaran matematika yang telah dirancang oleh guru. Kemampuan berfikir
kritis hakikatnya adalah sebagai proses berfikir tingkat tinggi yang komplek
yang berkedudukan diatas dari kemampuan berfikir kreatif dan kemampuan berfikir
inovatif yang melibatkan aspek intelektual untuk membangun sebuah pengetahuan
matematika, dan secara aksiologisnya dilihat dari etik dan estetiknya,
pengetahuan itu akan digunakan dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi,
baik permasalahan matematika maupun permasalahan diluar matematika, dan untuk
mempu survive dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan kondisi yang
akan datang. Dalam proses berfikir kritis akan melibatkan beberapa tahap antara
lain adalah tahap klarifikasi, assessment, penyimpulan, dan penerapan strategi
atau taktik untuk memperoleh solusi dari suatu permasalahan.
Belajar
pada dasarnya tidak terbatas pada ruang dan waktu sama halnya seperti metafisik yang dalam prosesenya disebut
dengan infinit regres yaitu kebawah
tidak akan pernah selesai dan keatas pun tidak akan pernah selesai kecuali
sampai pada kuasa Tuhan atau disebut
dengan Kausal prima. Kalimat ini
mengandung makna bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Salah satunya adalah pembelajaran formal yang dilakukan disekolah khususnya
dalam pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran matematika ada banyak sekali
karakter dan kemampuan yang ingin ditanamkan dan dikembangkan dalam diri siswa.
Salah satu kemampuan yang ingin ditanamkan dan dikembangkan pada siswa melalui
pembelajaran matematika adalah kemampuan berfikir kritis. Kemampuan berfikir
kritis merupakan epistimologi dari
pembelajaran matematika, karena dalam proses pembelajaran matematika siswa
perlu melakukan tahapan-tahapan kemampuan berfikir kritis untuk dapat mencapai
tujuan pembelajaran yang salah satunya adalah melakukan pemecahan masalah.
Kemampuan berfikir kritis adalah kemampuan berfikir tingkat tinggi yang
melibatkan beberapa aktivitas yaitu aktivitas menganalisis, mensintesis, dan
mengevaluasi. Dalam melatih kemampuan berfikir kritis siswa diawali dengan “sintesis”, sintesis disini berarti
melihat fenomena-fenomena yang terjadi kemudian mengamati/mencermati/memikirkan
tentang hal-hal dari fenomena tersebut kemudian membuat suatu “pembahasan” yang
akan menjadi persepsi dari siswa. Ini menunjukkan bahwa proses terbentuknya “logos”. Karena logos sejatinya adalah
memikirkan/mempertentangkan/menimbulkan perdebatan dari apa yang terjadi atau
terhadapa pengetahuan yang ada. Kemampuan berfikir kritis ini dapat ditinjau
dari aksiologisnya, yaitu dapat
menjadi bekal untuk siswa dapat survive dalam
kehidupannya yang tentu mengalami perkembangan jaman. Kemampuan berfikir kritis
ini diharapkan dimiliki oleh semua siswa karena dengan memiliki kemampuan
berfikir kritis siswa mampu menghadapi dan menyelesaikan semua masalah yang
dihadapinya dengan sangat “rapi” dan terstruktur. Kemampuan berfikir kritis
juga akan membuat siswa mampu memiliki kemampuan adabtabilitas dalam hidupnya.
Pada tulisan ini, akan diungkap bagaimana kemampuan berfikir kritis dalam
pembelajaran matematika jika dilihat dari tiga
unsur filsafat, yaitu ontologi
,epistimologi, dan aksiologi.
B.
Saran
Ada
beberapa saran yang dapat penulis berikan untuk para guru/pendidik/tutor/mentor
matematika dari penulisan makalah ini, yaitu:
1. Mempelajari
secara ekstensi dan intensi semua hal yang berperan dan terlibat dalam proses
pembelajaran matematika, salah satunya kemampuan berfikir kritis siswa.
2. Mampu
menjalankan epistimologi berfikir kritis berdasarkan ontologis berfikir kritis.
3. Mampu
melihat dan memperoleh aksiologi dari ontologis berfikir kritis.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Ahmad. 2016. Berpikir Kritis
Siswa Smp Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Kemampuan Matematika.
Jurnal Gammath, Volume I Nomor 2, September 2016.
Brown, Stephen. I. etc. The Art of Problem Posing. Lawrence
Erlbaum Associates Publisher: London.
Ernest, P. The Philosophy of Mathematics Education. 2004. Routledge Falmer is
an Imprint of the Taylor & Francis Group.
Farib, P., Ikhsan, M., & Subianto,
M. (2019). Proses berpikir kritis matematis siswa sekolah menengah pertama
melalui discovery learning. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 6(1), 99-117.
doi:https://doi.org/10.21831/jrpm.v6i1.21396
Kurniawati, Dewi. dkk. 2020. Pentingnya
Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Matematika. PeTeKa (Jurnal Penelitian
Tindakan Kelas dan Pengembangan Pembelajaran), Volume 3 Nomor 2 Tahun 2020 DOI
: 10.31604/ptk.v3i2.107-114
Kyriacou, Chris. 2009. Effective Teaching in Schools. Stanley
Thornest: United Kingdom
Kant, Immauel. 2010. The Critique Of Pure Reason Translate by
J.M.D. Meiklejohn. The Pennsylvania State University is an equal
opportunity university
Polya, G. 1957. How To Solve It. Princeton University Press: Pricenton and Oxford.
Silver, Edward A. 1985. Teaching and Learning Mathematical Problem
Solving. Laerence Erlbaum Associates Publishers: London.
Skemp, Richard R. 1987. The Psychology of Learning Mathematics.
Lawrence Erlbaum Associates Publisher: London
Sulistiani, Eny. dkk. 2016. Pentingnya
Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Matematika untuk Menghadapi Tantangan MEA. Seminar Nasional Matematika X Universitas
Negeri Semarang 2016.
Van de Wallw, J.A. 2007. Elemntary and Middle School Mathematics Six
Edition. Virginia Commonwealth University
Dikutip dari substan perkuliahan
Filsafat Ilmu yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA pada S2 Pendidikan
Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.
Komentar
Posting Komentar